home masjid

Lidah Diam, Hati Bernyanyi: Tafsir Al-Ghazali tentang Ekstase

Selasa, 24 Juni 2025 - 16:00 WIB
Dalam dunia yang riuh oleh suara sumbang, para sufi tetap menari dalam sunyi. Tidak semua orang paham, bahkan tidak semua boleh ikut. Ilustrasi:Ist
LAGIT7.ID-Suatu malam, dalam lingkaran zikir yang dibalut syair dan irama, seorang sufi muda terjatuh. Bukan karena lelah, tapi karena terbakar ekstase. Ia menjerit pelan lalu menangis dalam pelukan langit. Wajahnya bersinar seperti lilin yang meleleh oleh cahaya, bukan oleh panas.

“Lidahnya diam,” kata sang mursyid, “tapi hatinya menyanyi.”

Bagi dunia tasawuf, tarian dan musik bukan sekadar seni hiburan. Ia adalah bahasa lain dari jiwa—medium yang membangkitkan cinta, rasa syukur, ketakjuban, dan kadang, kehancuran ego. Tapi di sisi lain, tak sedikit yang mencibirnya sebagai biang bid’ah, atau bahkan—na’udzubillah—jalan kesesatan yang dilapisi keindahan.

Maka pertanyaan klasik pun kembali: apakah musik dan tarian dapat menjadi ibadah? Atau justru godaan syaitan yang menyaru sebagai cinta?

Dalam Kimia Kebahagiaan, karya Imam Al-Ghazali yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh Ashraf Publication, Lahore, Mei 1979, dan diterjemahkan oleh Haidar Bagir, sorotan tajam dilayangkan kepada dua kutub. Di satu sisi adalah kaum Zhahariyyah, golongan yang mengharamkan musik dan menolak kemungkinan cinta spiritual kepada Allah. Di sisi lain adalah para sufi, yang menjadikan musik sebagai bara cinta yang menyala-nyala.

Baca juga: Bukan Seruling Setan: Membaca Ulang Musik dan Tarian dalam Laku Sufi Imam Al-Ghazali

“Musik dan tarian,” tulis Al-Ghazali, “tidak memberikan sesuatu yang sebelumnya tidak ada di dalam hati, tapi hanyalah membangunkan emosi yang tertidur.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya