home masjid

Ekstase, Luka, dan Sunyi Para Pencinta Ajaran Imam Al-Ghazali

Rabu, 25 Juni 2025 - 05:15 WIB
Mereka yang menari dalam lingkaran zikir itujika benarsedang menari di dalam Allah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Terkadang cinta tak sanggup lagi disimpan dalam dada. Ia meluap seperti air bah yang menerjang bendungan-bendungan kesadaran. Maka, sebagian sufi yang tenggelam dalam ekstase menyayat kulitnya sendiri. Menjerit. Merobek baju. Menangis. Berdiri. Dan jatuh. Satu per satu lapisan dunia tercampak, hingga yang tertinggal hanyalah ruh yang menari di antara dua langit: cinta dan penghilangan diri.

Apakah itu penghambaan atau justru kemunafikan?

Di sejumlah majelis sama’ yang dihadiri para sufi, pernah terjadi seseorang—seorang murid muda—menjerit begitu keras karena tak sanggup menahan gelombang emosi spiritual yang mengguncangnya. Darah menyembur. Tubuhnya terguncang. Jiwanya seperti dicabut dari bumi. Melihat itu, Syaikh Junaid al-Baghdadi, sufi agung dari Baghdad, mengucapkan satu kalimat yang tajam namun mendidik:

“Jika kaulakukan hal itu sekali lagi, jangan tinggal bersamaku.”

Tegas dan keras. Tapi bukan karena dingin. Ia sedang mengajarkan bahwa cinta yang benar tidak kehilangan kendali. Karena jiwa yang benar-benar suci, adalah jiwa yang mampu menahan badai.

Baca juga: Kesempurnaan Tobat dan Kontinuitasnya Menurut Imam Ghazali

Dan benar saja, si pemuda tak mengulangi pekikan itu. Ia berusaha menahan diri selama bertahun-tahun. Hingga suatu malam, cinta dalam dadanya meluap sekali lagi. Kali ini, ia menjerit bukan karena lemah, tapi karena telah selesai menahan. Jeritannya yang terakhir itu, adalah jeritan ruh yang kembali—dan ia wafat dalam ekstase.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya