Satu Hari, Satu Umat, Satu Kalender: Ikhtiar Muhammadiyah Menyatukan Dunia Islam Lewat KHGT
Miftah yusufpati
Rabu, 25 Juni 2025 - 14:56 WIB
Muhammadiyah secara resmi menggunakan sistem KHGT mulai tahun 1447 H. Foto: PP Muhammadiyah
LANGIT7.ID-Di tengah pelataran Masjid Walidah Dahlan, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Rabu, 25 Juni 2025, Muhammadiyah resmi mencatatkan babak baru dalam sejarah penanggalan Islam. Dengan penuh khidmat dan gegap gempita, organisasi Islam tertua di Indonesia ini memperkenalkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)—sebuah sistem penanggalan yang tak hanya memaknai waktu sebagai angka, tetapi juga sebagai pernyataan kosmopolit atas cita-cita besar persatuan umat.
KHGT bukan sekadar sistem kalender. Ia adalah pernyataan sikap, ijtihad kolektif, dan panggilan sejarah untuk mengatasi fragmentasi umat yang selama ini terbelah oleh garis-garis imajiner matlak, sempadan negara, dan kejumudan metode.
“Islam itu kosmopolit. Ia bukan agama lokal, bukan pula hanya untuk etnis atau bangsa tertentu. Maka sistem waktunya pun harus kosmopolit,” ujar Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, dalam pidato kuncinya.
Haedar berbicara lantang, bukan sebagai pemimpin ormas semata, tapi sebagai negarawan peradaban. “Bila perlu, hapus saja nama Muhammadiyah dari kalender ini,” katanya dengan nada meyakinkan. “KHGT bukan milik Muhammadiyah, melainkan milik umat.”
Peluncuran KHGT berlangsung dalam forum internasional yang sarat simbol: duta besar negara Islam, ulama, astronom, akademisi dari berbagai belahan dunia, hingga perwakilan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Semua menandai satu hal: ini bukan agenda lokal. Ini adalah ikhtiar global.
Baca juga: Kuatnya Paham Rukyat Literal dan Matlak Lokal Menyebabkan Konsep KHGT Tak Diterima
KHGT berdiri di atas tiga fondasi utama. Pertama, prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia Islam. Tak ada lagi umat Islam berpuasa pada hari yang berbeda di negeri tetangga. Kedua, menggunakan hisab dengan presisi ilmiah. Dan ketiga, kesatuan matlak: memperlakukan bumi sebagai satu zona waktu tunggal untuk kalender Islam.
KHGT bukan sekadar sistem kalender. Ia adalah pernyataan sikap, ijtihad kolektif, dan panggilan sejarah untuk mengatasi fragmentasi umat yang selama ini terbelah oleh garis-garis imajiner matlak, sempadan negara, dan kejumudan metode.
“Islam itu kosmopolit. Ia bukan agama lokal, bukan pula hanya untuk etnis atau bangsa tertentu. Maka sistem waktunya pun harus kosmopolit,” ujar Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, dalam pidato kuncinya.
Haedar berbicara lantang, bukan sebagai pemimpin ormas semata, tapi sebagai negarawan peradaban. “Bila perlu, hapus saja nama Muhammadiyah dari kalender ini,” katanya dengan nada meyakinkan. “KHGT bukan milik Muhammadiyah, melainkan milik umat.”
Peluncuran KHGT berlangsung dalam forum internasional yang sarat simbol: duta besar negara Islam, ulama, astronom, akademisi dari berbagai belahan dunia, hingga perwakilan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Semua menandai satu hal: ini bukan agenda lokal. Ini adalah ikhtiar global.
Baca juga: Kuatnya Paham Rukyat Literal dan Matlak Lokal Menyebabkan Konsep KHGT Tak Diterima
KHGT berdiri di atas tiga fondasi utama. Pertama, prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia Islam. Tak ada lagi umat Islam berpuasa pada hari yang berbeda di negeri tetangga. Kedua, menggunakan hisab dengan presisi ilmiah. Dan ketiga, kesatuan matlak: memperlakukan bumi sebagai satu zona waktu tunggal untuk kalender Islam.