1 Muharram dan 1 Suro: Satu Bulan, Dua Nama, Satu Jiwa Tradisi
Miftah yusufpati
Jum'at, 27 Juni 2025 - 05:15 WIB
1 Muharram dan 1 Suro adalah dua nama untuk satu jiwa tradisi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Setiap kali bulan baru muncul di langit, masyarakat Jawa dan umat Islam di seluruh dunia menatap kalender dengan arah yang sama namun nama yang berbeda: 1 Muharram dalam Islam, 1 Suro dalam tradisi Jawa. Dua nama yang lahir dari akar sejarah yang berbeda, namun kini berjalan berdampingan dalam harmoni yang tak terpisahkan.
Secara sistemik, tidak ada perbedaan antara 1 Muharram dan 1 Suro. Keduanya mengacu pada kalender qamariah—sistem penanggalan berbasis perputaran bulan. Yang membedakan hanya penamaan dan angka tahunnya. Di tahun 1444 H, misalnya, 1 Muharram jatuh pada 30 Juli 2022, yang secara bersamaan dalam Kalender Jawa tercatat sebagai 1 Suro 1956.
Akar penyatuan antara Muharram dan Suro ini tidak dapat dilepaskan dari figur Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa besar Kesultanan Mataram Islam yang berkuasa antara 1613 hingga 1645. Ia bukan hanya pemimpin militer dan politik, tetapi juga pemikir budaya dan keagamaan. Di masa itu, masyarakat Jawa masih menggunakan kalender Saka, warisan Hindu-Buddha yang berbasis peredaran matahari.
Pada tahun 1625 Masehi (1547 Saka), Sultan Agung mengeluarkan sebuah dekrit monumental: mengganti sistem kalender Saka dengan kalender Hijriah Islam berbasis lunar, namun tetap mempertahankan angka tahun Saka. Hasilnya adalah kelahiran Kalender Jawa Islam, sebuah hibrida kosmologi antara langit Islam dan bumi Jawa.
Baca juga: Bacaan Niat Puasa Muharram Lengkap dengan Terjemahnya
Dekrit ini menjadi alat politik dan kultural yang cerdas. Dengan mengharmonikan dua sistem penanggalan, Sultan Agung ingin merangkul kaum santri dan abangan, pesisir dan pedalaman, Islam dan kejawen—sebagai bagian dari strategi konsolidasi budaya dan agama untuk melawan dominasi Belanda di Batavia.
Sakral, dan Sunyi
Secara sistemik, tidak ada perbedaan antara 1 Muharram dan 1 Suro. Keduanya mengacu pada kalender qamariah—sistem penanggalan berbasis perputaran bulan. Yang membedakan hanya penamaan dan angka tahunnya. Di tahun 1444 H, misalnya, 1 Muharram jatuh pada 30 Juli 2022, yang secara bersamaan dalam Kalender Jawa tercatat sebagai 1 Suro 1956.
Akar penyatuan antara Muharram dan Suro ini tidak dapat dilepaskan dari figur Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa besar Kesultanan Mataram Islam yang berkuasa antara 1613 hingga 1645. Ia bukan hanya pemimpin militer dan politik, tetapi juga pemikir budaya dan keagamaan. Di masa itu, masyarakat Jawa masih menggunakan kalender Saka, warisan Hindu-Buddha yang berbasis peredaran matahari.
Pada tahun 1625 Masehi (1547 Saka), Sultan Agung mengeluarkan sebuah dekrit monumental: mengganti sistem kalender Saka dengan kalender Hijriah Islam berbasis lunar, namun tetap mempertahankan angka tahun Saka. Hasilnya adalah kelahiran Kalender Jawa Islam, sebuah hibrida kosmologi antara langit Islam dan bumi Jawa.
Baca juga: Bacaan Niat Puasa Muharram Lengkap dengan Terjemahnya
Dekrit ini menjadi alat politik dan kultural yang cerdas. Dengan mengharmonikan dua sistem penanggalan, Sultan Agung ingin merangkul kaum santri dan abangan, pesisir dan pedalaman, Islam dan kejawen—sebagai bagian dari strategi konsolidasi budaya dan agama untuk melawan dominasi Belanda di Batavia.
Sakral, dan Sunyi