LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan. Bank Indonesia (BI) pun angkat bicara. Penyebab utamanya? Konflik di Timur Tengah yang masih panas dan tak kunjung reda.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah membuat harga minyak melonjak dan ketidakpastian global meningkat. Dampaknya langsung terasa pada nilai tukar rupiah.
Namun, bukan hanya faktor luar negeri saja. Ada pula kebutuhan dalam negeri yang ikut mendorong permintaan dolar AS.
Destry merinci bahwa sejumlah kebutuhan musiman turut memicu pelemahan rupiah. Di antaranya:
· Pembayaran utang luar negeri (ULN)
· Pembayaran dividen perusahaan asing
· Kebutuhan devisa untuk ibadah haji
"Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dolar secara musiman mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik," ujar Destry kepada media, Selasa (12/5/2026).
Jurus BI: Intervensi Cerdas dan Optimalkan Instrumen MoneterUntuk menghadapi tekanan ini, BI tidak tinggal diam. Bank sentral berkomitmen untuk terus aktif menjaga stabilitas rupiah.
"BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention, baik di pasar spot, DNDF, maupun NDF, serta mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter," tegas Destry.
Harapannya, langkah ini bisa mengurangi tekanan terhadap rupiah.
Ada Kabar Baik: Kepercayaan Investor Asing Mulai PulihDi tengah tekanan yang ada, Destry menyebut ada secercah harapan. Kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio di Indonesia mulai membaik.
Buktinya, selama bulan April, aliran modal asing masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp 61,6 triliun.
"BI juga melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik, yang tercermin dari masuknya inflow," katanya.
Selain itu, likuiditas valuta asing di pasar domestik juga tergolong cukup tinggi. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas di akhir Maret tercatat mencapai 10,9% year to date (ytd).
Dengan berbagai faktor tersebut, BI optimistis bahwa tekanan yang bersifat musiman ini perlahan akan mereda. Rupiah pun diprediksi bisa kembali bergerak ke level fundamentalnya.
Jadi, meski sedang tertekan, ada sejumlah faktor pendukung yang membuat BI yakin rupiah tidak akan terpuruk lama. Yang diperlukan sekarang adalah waktu dan konsistensi intervensi.(*/saf)
(lam)