home masjid

Peristiwa Muharram: Tafsir Spiritual atas Kisah Nabi Idris

Sabtu, 28 Juni 2025 - 05:45 WIB
Apa sebenarnya makna dari tempat yang tinggi itu? Di sinilah ruang interpretasi terbuka lebar. Ilustrasi: Ist
LANGT7.ID-Di tengah pergantian tahun hijriah dan kedatangan bulan Muharram, sejarah keimanan kembali menghidupkan perenungan. Tanggal 10 Muharram bukan hanya hari duka bagi para pecinta Ahlul Bait, tetapi juga momentum langit mencatat peristiwa agung: diangkatnya Nabi Idris ‘alaihissalam ke tempat yang tinggi. Begitu firman Tuhan dalam Surah Maryam ayat 56–57, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.”

Apa sebenarnya makna dari “tempat yang tinggi” itu? Di sinilah ruang interpretasi terbuka lebar. Di balik dua ayat pendek itu, warisan riwayat dan spekulasi tafsir menjelma menjadi lanskap spiritual yang luas—kadang mistik, kadang filosofis, kadang sarat peringatan bagi manusia modern yang kehilangan arah dalam memaknai pencapaian sejati.

Ibnu Katsir, dalam Qashash al-Anbiya, merujuk kepada hadis sahih Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Muhammad bertemu Nabi Idris di langit keempat pada peristiwa Isra Mi’raj. Ini memperkuat pandangan bahwa tempat tinggi yang dimaksud adalah langit lapis keempat, salah satu dari tujuh lapisan langit dalam kosmologi Islam klasik.

Namun tak cukup hanya itu. Tafsir lain menambahkan lapisan-lapisan spiritual, simbolik, bahkan alegoris terhadap peristiwa ini. Riwayat Ka’ab al-Ahbar, meski dikategorikan sebagian sebagai israiliyat, menggambarkan Nabi Idris sebagai sosok yang mendambakan peningkatan amal sebelum ajal menjemputnya. Ia pun meminta bantuan malaikat untuk menyampaikan permintaan kepada malaikat maut agar ajalnya ditangguhkan. Namun, justru di langit keempat itulah nyawanya dicabut—sebuah takdir yang telah ditentukan.

Baca juga: Kisah Lamik Keturunan Nabi Idris Ternyata Ayah Nabi Nuh

Kisah ini membuka ruang tafsir yang lebih dari sekadar kronik kematian. Ia menggambarkan seorang hamba saleh yang, dalam keinginannya memperbanyak amal, justru “dipanggil” saat berada di titik tertinggi—secara spiritual dan fisikal. Tafsir ini memperlihatkan bahwa kenaikan Nabi Idris bukan semata perjalanan ruang angkasa, melainkan simbol kenaikan derajat karena ketekunan, kesalehan, dan cinta akan amal.

Dalam narasi yang dikisahkan oleh Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas dalam kitab Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman, Nabi Idris bukan hanya melihat langit, tetapi sempat “plesir” ke neraka dan surga. Ia meminta mati, kemudian dihidupkan kembali. Ia meminta melihat jahanam, lalu menggigil seumur hidup. Ia kemudian meminta diperlihatkan surga, dan ketika ia berada di dalamnya, Idris berkata: “Aku telah mati, aku telah melihat neraka, dan kini aku berada di surga. Maka aku tidak akan keluar lagi.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya