Menembus Batas Matahari: Tafsir Kepemimpinan Dzulqarnain
Miftah yusufpati
Sabtu, 28 Juni 2025 - 04:15 WIB
Dzulqarnain datang dari arah sebaliknya: ia memperluas wilayah, tapi justru untuk menyejukkan bumi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dari antara kisah-kisah besar yang diabadikan dalam Surat Al-Kahfi, nama Dzulqarnain mencuat sebagai simbol penguasa adil yang dianugerahi kekuatan dan jalan menuju segala penjuru bumi. Namun, seperti halnya kisah-kisah penuh isyarat dalam Al-Qur’an, narasi tentang Dzulqarnain tidak menyebut dengan gamblang siapa tokoh ini, di mana ia tinggal, atau kapan tepatnya ia hidup. Kekosongan data inilah yang justru mengandung pesan yang lebih dalam: fokus Al-Qur’an bukan pada fakta sejarah yang kasat mata, melainkan pada nilai-nilai yang abadi dan lintas zaman.
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal,” demikian firman Allah dalam Surat Yusuf ayat 111. Dalam konteks ini, Dzulqarnain bukan sekadar tokoh sejarah yang misterius, tapi sosok teladan dalam memikul kekuasaan dan amanah.
Dalam Surat Al-Kahfi ayat 84, Allah menyatakan bahwa Dzulqarnain diberi kekuasaan di bumi serta kemampuan menjangkau segala penjuru. Ia pergi ke arah matahari terbenam dan bertemu dengan kaum yang tidak dikenal. Kemudian ia bergerak ke arah matahari terbit dan kembali bertemu kaum lain. Dan yang paling monumental, ia membangun dinding raksasa yang menghalangi bangsa Ya’juj dan Ma’juj.
Baca juga: Akhir Zaman: Isfahan, Khurasan dan Ramalan Tentara Yahudi dalam Pasukan Dajjal
Namun, dari segala prestasi geopolitik ini, satu hal yang paling ditekankan oleh Al-Qur’an adalah bahwa Dzulqarnain tetap bersikap tawadhu. Ketika dinding penghalang itu selesai, ia tidak memuji dirinya. Ia tidak berkata, “Lihatlah hasil kekuatan dan strategi saya.” Sebaliknya, ia berkata, “Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”
Ucapan ini mencerminkan mentalitas seorang pemimpin yang sadar bahwa segala capaian hanyalah titipan. Bahwa kekuasaan bukan tempat menancapkan ego, tapi ladang untuk menumbuhkan amanah. Ketika kebanyakan penguasa tertunduk oleh gengsi dan keakuan, Dzulqarnain justru menunjuk ke langit dan menunduk kepada-Nya.
Kisah yang Tidak Menjawab Semua Tanya
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal,” demikian firman Allah dalam Surat Yusuf ayat 111. Dalam konteks ini, Dzulqarnain bukan sekadar tokoh sejarah yang misterius, tapi sosok teladan dalam memikul kekuasaan dan amanah.
Dalam Surat Al-Kahfi ayat 84, Allah menyatakan bahwa Dzulqarnain diberi kekuasaan di bumi serta kemampuan menjangkau segala penjuru. Ia pergi ke arah matahari terbenam dan bertemu dengan kaum yang tidak dikenal. Kemudian ia bergerak ke arah matahari terbit dan kembali bertemu kaum lain. Dan yang paling monumental, ia membangun dinding raksasa yang menghalangi bangsa Ya’juj dan Ma’juj.
Baca juga: Akhir Zaman: Isfahan, Khurasan dan Ramalan Tentara Yahudi dalam Pasukan Dajjal
Namun, dari segala prestasi geopolitik ini, satu hal yang paling ditekankan oleh Al-Qur’an adalah bahwa Dzulqarnain tetap bersikap tawadhu. Ketika dinding penghalang itu selesai, ia tidak memuji dirinya. Ia tidak berkata, “Lihatlah hasil kekuatan dan strategi saya.” Sebaliknya, ia berkata, “Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”
Ucapan ini mencerminkan mentalitas seorang pemimpin yang sadar bahwa segala capaian hanyalah titipan. Bahwa kekuasaan bukan tempat menancapkan ego, tapi ladang untuk menumbuhkan amanah. Ketika kebanyakan penguasa tertunduk oleh gengsi dan keakuan, Dzulqarnain justru menunjuk ke langit dan menunduk kepada-Nya.
Kisah yang Tidak Menjawab Semua Tanya