home masjid

Bubur Asyura dan Tajin Sora: Warisan Renungan dalam Sepiring Tradisi

Senin, 30 Juni 2025 - 05:15 WIB
Di negeri yang begitu kaya akan tradisi kuliner spiritual ini, bubur bukan cuma bubur. Ia adalah tafsir. Ia adalah sejarah. Ia adalah doa yang tak diucapkan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Pada pagi yang lengang di Sumenep, aroma tajin sora mulai menguar dari dapur-dapur warga. Dimasak dalam panci besar, bubur berkuah ketan itu bukan sekadar panganan: ia adalah nyawa dari sebuah tradisi tua yang kembali hidup setiap bulan Sura—demikian orang Madura menyebut Muharam. Seperti sebuah kalimat pembuka dari kitab yang diwariskan turun-temurun, Tajin Sora hadir bukan untuk disantap semata, melainkan dibaca, ditafsirkan, dan direnungi.

Japarudin, peneliti budaya Islam Nusantara, menyebut dalam tulisannya, Tajin Sora menjadi lambang spiritualitas Madura dalam menyikapi Muharam—bulan yang secara tradisional dianggap “na’as”, bulan untuk menahan diri dan tidak bepergian jauh. “Merah menggambarkan darah Sayyidina Husein, putih melambangkan kesucian perjuangannya,” tulis Japarudin dalam esainya, yang kini kerap dikutip dalam diskusi kebudayaan Islam lokal.

Sebagaimana luka di Karbala, Tajin Sora membawa kita kepada tafsir yang lebih dalam. Tradisi ini bukan sekadar mengenang tragedi cucu Nabi Muhammad SAW, tapi menjadi jalan spiritual masyarakat Madura untuk menyelami makna kesetiaan, keikhlasan, dan penderitaan yang disucikan.

Baca juga: Agar Nggak Salah Paham, Muharram Bukan Bulan Hijrah Nabi Muhammad SAW

Jejak Tajin ke Tasikmalaya

Pindah ke jantung Priangan Timur, Tasikmalaya dan sebagian Garut merayakan 10 Muharam dengan cara serupa namun berbeda rasa. Di sana, dikenal bubur suro—pasangan bubur merah dan putih yang dimasak terpisah. Di pagi hari Asyura, penduduk membawa bubur ini ke masjid, disusun rapi bersama penganan lain, lalu duduk bersila dalam lingkaran yang dipimpin seorang sepuh.

Al-Barzanji pun dilantunkan. Lalu, kisah getir Husein bin Ali dibacakan, tak sekadar sebagai narasi sejarah tapi sebagai renungan kolektif. Setelah air mata tuntas mengalir—atau ditahan dalam diam—warga menyantap bubur bersama. Dalam kesederhanaan itulah, kekayaan budaya dan spiritualitas Jawa Barat bertumbuh: dalam keheningan, dalam kebersamaan, dalam ingatan yang tak ingin padam.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya