Mengapa 10 Muharram Disebut Lebaran Anak Yatim?
Miftah yusufpati
Senin, 30 Juni 2025 - 16:45 WIB
Bukan soal hari raya, tetapi saat mereka kembali merasa diingat, dipeluk, dan dimuliakan. Ilustrasi: Ist
LAGIT7.ID-Tradisi yang hidup di tengah masyarakat Indonesia ini tidak berasal dari syariat yang baku, namun berakar pada spirit kepedulian dan cinta kasih kepada mereka yang kehilangan pelindung.
Bulan Muharram datang, dan di sudut-sudut masjid, majelis taklim, hingga balai desa, ramai undangan dengan tajuk seragam: “Santunan Anak Yatim 10 Muharram”.
Di tengah tradisi yang masih dijalani sebagian masyarakat Indonesia, terutama pada hari Asyura, muncul satu istilah yang kerap memantik tanya: mengapa hari Asyura disebut sebagai lebaran anak yatim?
Seperti “lebaran”, suasana pada 10 Muharram diwarnai suka cita: anak-anak yatim berpakaian rapi, menerima bingkisan, disalami penuh kasih, dan dibacakan doa. Namun, tidak seperti Idul Fitri atau Idul Adha yang berbasis syariat jelas, “lebaran anak yatim” adalah warisan tradisi masyarakat Muslim Nusantara, hasil tafsir sosial terhadap hadis-hadis yang berkembang.
Baca juga: Agar Nggak Salah Paham, Muharram Bukan Bulan Hijrah Nabi Muhammad SAW
Dari Hadis hingga Tradisi
Ustaz Ahmad Zarkasih dalam bukunya Sejarah Kalender Hijriyah menuliskan bahwa 10 Muharram dikenal sebagai “hari anak yatim” karena banyak hadis yang menyebut keutamaan menyantuni anak yatim pada hari tersebut. Salah satu yang populer berbunyi:
Bulan Muharram datang, dan di sudut-sudut masjid, majelis taklim, hingga balai desa, ramai undangan dengan tajuk seragam: “Santunan Anak Yatim 10 Muharram”.
Di tengah tradisi yang masih dijalani sebagian masyarakat Indonesia, terutama pada hari Asyura, muncul satu istilah yang kerap memantik tanya: mengapa hari Asyura disebut sebagai lebaran anak yatim?
Seperti “lebaran”, suasana pada 10 Muharram diwarnai suka cita: anak-anak yatim berpakaian rapi, menerima bingkisan, disalami penuh kasih, dan dibacakan doa. Namun, tidak seperti Idul Fitri atau Idul Adha yang berbasis syariat jelas, “lebaran anak yatim” adalah warisan tradisi masyarakat Muslim Nusantara, hasil tafsir sosial terhadap hadis-hadis yang berkembang.
Baca juga: Agar Nggak Salah Paham, Muharram Bukan Bulan Hijrah Nabi Muhammad SAW
Dari Hadis hingga Tradisi
Ustaz Ahmad Zarkasih dalam bukunya Sejarah Kalender Hijriyah menuliskan bahwa 10 Muharram dikenal sebagai “hari anak yatim” karena banyak hadis yang menyebut keutamaan menyantuni anak yatim pada hari tersebut. Salah satu yang populer berbunyi: