Kisah Humor Sufi Nasrudin: Ketika Kapal Hampir Tenggelam dan Janji Mulai Berhamburan
Miftah yusufpati
Kamis, 03 Juli 2025 - 16:00 WIB
Jangan tunggu badai untuk mengingat Tuhan. Ingatlah Dia dalam terang, agar tak goyah dalam gelap. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam sebuah perjalanan menyeberangi lautan, Nasrudin Hoja ikut berlayar dengan kapal besar. Hari itu langit begitu cerah, angin semilir, dan laut berkilau seperti permadani biru. Penumpang bersorak gembira, minum teh, dan menikmati semilir angin laut.
Namun Nasrudin, dengan jubahnya yang berkibar, berdiri di dek sambil memandang langit. “Cuaca baik terlalu sering membuat orang lupa badai,” katanya pelan. Beberapa penumpang mendengarnya, tetapi hanya menertawakan.
“Nasrudin, nikmati saja angin ini! Jangan seperti pembawa petaka!” seru seorang.
Namun tak lama, awan hitam bergulung di cakrawala. Laut mendadak bergelora. Angin memekakkan telinga, dan kapal mulai terombang-ambing seperti daun. Orang-orang berteriak, meratap, bahkan ada yang pingsan. Ketakutan menggantikan gelak tawa.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Utang Terima Kasih yang Terlalu Lama
Dalam kepanikan, suara-suara berserakan:
“Ya Allah, selamatkan kami!”
Namun Nasrudin, dengan jubahnya yang berkibar, berdiri di dek sambil memandang langit. “Cuaca baik terlalu sering membuat orang lupa badai,” katanya pelan. Beberapa penumpang mendengarnya, tetapi hanya menertawakan.
“Nasrudin, nikmati saja angin ini! Jangan seperti pembawa petaka!” seru seorang.
Namun tak lama, awan hitam bergulung di cakrawala. Laut mendadak bergelora. Angin memekakkan telinga, dan kapal mulai terombang-ambing seperti daun. Orang-orang berteriak, meratap, bahkan ada yang pingsan. Ketakutan menggantikan gelak tawa.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Utang Terima Kasih yang Terlalu Lama
Dalam kepanikan, suara-suara berserakan:
“Ya Allah, selamatkan kami!”