Catatan Al-Ghazali tentang Diri, Dosa, dan Deretan Lemari di Hari Kemudian
Miftah yusufpati
Kamis, 03 Juli 2025 - 16:30 WIB
Al-Ghazali tidak menyuruh kita menjadi malaikat. Ia hanya mengajak kita lebih jujur kepada diri sendiri. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah hiruk-pikuk zaman yang mengukur keberhasilan dengan capaian duniawi, seorang tokoh sufi besar dari abad ke-11, Abu Hamid Al-Ghazali atau Imam al-Ghazali, menawarkan sebuah tafsir kehidupan yang lebih sunyi dan mendalam.
Dalam Kimia Kebahagiaan (The Alchemy of Happiness), Al-Ghazali menegaskan bahwa hidup bukan sekadar rangkaian peristiwa yang terlewat begitu saja, tetapi investasi rohaniah yang kelak akan dibuka lemari demi lemari di hadapan Sang Pengadil.
Al-Ghazali memulai dengan premis yang nyaris tidak pernah usang: bahwa setiap jiwa akan melihat kembali amalnya, kebaikan maupun keburukan. Ia mengutip firman Tuhan dalam Al-Qur’an:
“Akan Kami pasang satu timbangan yang adil pada Hari Perhitungan, dan tak ada jiwa yang dianiaya.” (QS Al-Anbiya: 47)
Dalam tafsirnya yang puitis sekaligus menggugah, ia membayangkan jam-jam kehidupan manusia tersimpan dalam deretan lemari. Ada lemari yang penuh cahaya—saat-saat amal kebaikan dilakukan. Ada yang dipenuhi kegelapan dan bau busuk—saat kemaksiatan ditunaikan. Namun ada pula lemari yang kosong, hampa, tak diisi apa-apa: waktu-waktu yang sia-sia, yang sekadar lewat tanpa makna.
Baca juga: Ekstase, Luka, dan Sunyi Para Pencinta Ajaran Imam Al-Ghazali
Tradisi Hisab Sejak Dini
Dalam Kimia Kebahagiaan (The Alchemy of Happiness), Al-Ghazali menegaskan bahwa hidup bukan sekadar rangkaian peristiwa yang terlewat begitu saja, tetapi investasi rohaniah yang kelak akan dibuka lemari demi lemari di hadapan Sang Pengadil.
Al-Ghazali memulai dengan premis yang nyaris tidak pernah usang: bahwa setiap jiwa akan melihat kembali amalnya, kebaikan maupun keburukan. Ia mengutip firman Tuhan dalam Al-Qur’an:
“Akan Kami pasang satu timbangan yang adil pada Hari Perhitungan, dan tak ada jiwa yang dianiaya.” (QS Al-Anbiya: 47)
Dalam tafsirnya yang puitis sekaligus menggugah, ia membayangkan jam-jam kehidupan manusia tersimpan dalam deretan lemari. Ada lemari yang penuh cahaya—saat-saat amal kebaikan dilakukan. Ada yang dipenuhi kegelapan dan bau busuk—saat kemaksiatan ditunaikan. Namun ada pula lemari yang kosong, hampa, tak diisi apa-apa: waktu-waktu yang sia-sia, yang sekadar lewat tanpa makna.
Baca juga: Ekstase, Luka, dan Sunyi Para Pencinta Ajaran Imam Al-Ghazali
Tradisi Hisab Sejak Dini