Kebangkitan Barat yang Tanpa Tuhan: Ketika Pabrik Menjadi Kuil, dan Insinyur Menjadi Nabi
Miftah yusufpati
Kamis, 10 Juli 2025 - 17:00 WIB
Jangan biarkan semangat material menggerogoti ruh keyakinan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Muhammad Asad dalam buku Islam di Simpang Jalanyang berjudul asli Islam at the Crossroads menggelar analisis tajam yang tidak hanya menguliti permukaan kebudayaan Barat, tetapi menukik sampai ke sumsum spiritualnya. Ia menelusuri akar kekosongan religius modern hingga ke tiga sebab pokok: warisan Romawi yang materialistik, pemberontakan terhadap asketisme Kristen, dan konsepsi ketuhanan yang anthropomorfis.
Menurut Asad, dogma Yesus sebagai “Anak Tuhan” bukan hanya masalah teologis—tetapi menjadi batu sandungan besar dalam kesadaran filosofis dan psikologis orang Barat. Sebab, saat pemikiran mulai dibebaskan dari kungkungan gereja, gagasan tentang Tuhan yang menyerupai manusia menjadi terlalu naif, bahkan ofensif, bagi akal yang sudah terlatih berpikir logis. Pemanusiaan Tuhan yang dimaksud untuk mendekatkan justru menjauhkan.
Konsepsi semacam itu—yang didukung oleh seni rupa dan tradisi visual Eropa—mengakar dalam bawah sadar kolektif masyarakat, dan ketika akal merdeka, mereka tidak hanya meninggalkan doktrin itu, tetapi meninggalkan agama secara keseluruhan.
Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad
Revolusi Industri
Momen industrialisasi mempercepat krisis spiritual itu. Kehidupan duniawi tampil gemerlap, kemajuan materi membius, dan agama—yang gagal memberi jawaban tentang perubahan zaman—terdesak mundur.
Gereja yang dulu berkuasa, kini menjadi simbol dari kemunafikan, pembungkaman nalar, dan sekutu penguasa. Dalam ruang kosong yang ditinggalkan agama itu, peradaban baru dibangun—bukan atas nama Tuhan, tetapi atas nama manusia yang ingin bebas dari alam.
Menurut Asad, dogma Yesus sebagai “Anak Tuhan” bukan hanya masalah teologis—tetapi menjadi batu sandungan besar dalam kesadaran filosofis dan psikologis orang Barat. Sebab, saat pemikiran mulai dibebaskan dari kungkungan gereja, gagasan tentang Tuhan yang menyerupai manusia menjadi terlalu naif, bahkan ofensif, bagi akal yang sudah terlatih berpikir logis. Pemanusiaan Tuhan yang dimaksud untuk mendekatkan justru menjauhkan.
Konsepsi semacam itu—yang didukung oleh seni rupa dan tradisi visual Eropa—mengakar dalam bawah sadar kolektif masyarakat, dan ketika akal merdeka, mereka tidak hanya meninggalkan doktrin itu, tetapi meninggalkan agama secara keseluruhan.
Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad
Revolusi Industri
Momen industrialisasi mempercepat krisis spiritual itu. Kehidupan duniawi tampil gemerlap, kemajuan materi membius, dan agama—yang gagal memberi jawaban tentang perubahan zaman—terdesak mundur.
Gereja yang dulu berkuasa, kini menjadi simbol dari kemunafikan, pembungkaman nalar, dan sekutu penguasa. Dalam ruang kosong yang ditinggalkan agama itu, peradaban baru dibangun—bukan atas nama Tuhan, tetapi atas nama manusia yang ingin bebas dari alam.