Abdullah Ibnu Rawahah: Penyair yang Syahid dalam Perang Muktah
Miftah yusufpati
Senin, 14 Juli 2025 - 05:15 WIB
Ia mengajarkan kita bahwa jika tak gugur di medan juang, kita tetap akan mati di atas ranjang. Lebih baik memilih kemuliaan, meski harus ditebus dengan darah dan nyawa. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di medan perang Muktah, di antara deru pedang dan teriakan takbir, seorang sahabat Nabi Muhammad ﷺ berdiri tegak memegang panji Islam. Tubuhnya dilumuri darah, suaranya masih lantang membacakan syair-syairnya, hingga akhirnya ia roboh sebagai syuhada. Dialah Abdullah Ibnu Rawahah, penyair yang mencintai kata-kata, namun tak gentar menukar pena dengan pedang demi Islam.
Ibnu Rawahah lahir di Madinah, kota yang pada masanya belum mengenal tradisi literasi luas. Di tengah masyarakat yang sebagian besar buta huruf, ia tumbuh menjadi penulis dan penyair ulung. Syair-syairnya tajam, indah, dan penuh iman. Sejak ikut serta dalam Bai’ah Aqabah pertama dan kedua, ia menyerahkan seluruh bakatnya untuk kejayaan Islam.
Nabi ﷺ sendiri kerap menikmati syair-syairnya, bahkan suatu kali memintanya mengucapkan syair di hadapan para sahabat. Dengan penuh hormat, Ibnu Rawahah melantunkan bait-bait pujian:
"Wahai putra Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia …"
Nabi pun tersenyum penuh keridaan, lalu bersabda: "Dan engkau pun akan diteguhkan Allah."
Baca juga: Karakteristik Fikih Sahabat Nabi Muhammad SAW: Lahirnya Syiah dan Sunni
Sebagai penyair, ia pernah bimbang ketika turun ayat: "Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat." (QS Asy-Syu’ara: 224)
Ibnu Rawahah lahir di Madinah, kota yang pada masanya belum mengenal tradisi literasi luas. Di tengah masyarakat yang sebagian besar buta huruf, ia tumbuh menjadi penulis dan penyair ulung. Syair-syairnya tajam, indah, dan penuh iman. Sejak ikut serta dalam Bai’ah Aqabah pertama dan kedua, ia menyerahkan seluruh bakatnya untuk kejayaan Islam.
Nabi ﷺ sendiri kerap menikmati syair-syairnya, bahkan suatu kali memintanya mengucapkan syair di hadapan para sahabat. Dengan penuh hormat, Ibnu Rawahah melantunkan bait-bait pujian:
"Wahai putra Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia …"
Nabi pun tersenyum penuh keridaan, lalu bersabda: "Dan engkau pun akan diteguhkan Allah."
Baca juga: Karakteristik Fikih Sahabat Nabi Muhammad SAW: Lahirnya Syiah dan Sunni
Sebagai penyair, ia pernah bimbang ketika turun ayat: "Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat." (QS Asy-Syu’ara: 224)