Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 23 April 2026
home masjid detail berita

Abdullah Ibnu Rawahah: Penyair yang Syahid dalam Perang Muktah

miftah yusufpati Senin, 14 Juli 2025 - 05:15 WIB
Abdullah Ibnu Rawahah: Penyair yang Syahid dalam Perang Muktah
Ia mengajarkan kita bahwa jika tak gugur di medan juang, kita tetap akan mati di atas ranjang. Lebih baik memilih kemuliaan, meski harus ditebus dengan darah dan nyawa. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di medan perang Muktah, di antara deru pedang dan teriakan takbir, seorang sahabat Nabi Muhammad ﷺ berdiri tegak memegang panji Islam. Tubuhnya dilumuri darah, suaranya masih lantang membacakan syair-syairnya, hingga akhirnya ia roboh sebagai syuhada. Dialah Abdullah Ibnu Rawahah, penyair yang mencintai kata-kata, namun tak gentar menukar pena dengan pedang demi Islam.

Ibnu Rawahah lahir di Madinah, kota yang pada masanya belum mengenal tradisi literasi luas. Di tengah masyarakat yang sebagian besar buta huruf, ia tumbuh menjadi penulis dan penyair ulung. Syair-syairnya tajam, indah, dan penuh iman. Sejak ikut serta dalam Bai’ah Aqabah pertama dan kedua, ia menyerahkan seluruh bakatnya untuk kejayaan Islam.

Nabi ﷺ sendiri kerap menikmati syair-syairnya, bahkan suatu kali memintanya mengucapkan syair di hadapan para sahabat. Dengan penuh hormat, Ibnu Rawahah melantunkan bait-bait pujian:

"Wahai putra Hasyim yang baik, sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia …"

Nabi pun tersenyum penuh keridaan, lalu bersabda: "Dan engkau pun akan diteguhkan Allah."

Baca juga: Karakteristik Fikih Sahabat Nabi Muhammad SAW: Lahirnya Syiah dan Sunni

Sebagai penyair, ia pernah bimbang ketika turun ayat: "Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat." (QS Asy-Syu’ara: 224)

Namun hatinya tenang kembali ketika Allah menurunkan pengecualian: "Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah …" (QS Asy-Syu’ara: 227)

Dan Ibnu Rawahah termasuk golongan itu: penyair yang beriman, bersyair untuk membela Islam, untuk menasihati umat, untuk menantang musuh-musuh Allah.

Namun di medan perang, ia bukan sekadar penyair. Dalam perang Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, dan Khaibar, ia tampil sebagai pejuang sejati, dengan syair sebagai semboyan perang: "Wahai diri! Seandainya engkau tidak gugur terbunuh, engkau tetap akan mati walau di atas ranjang."

Di umrah Qadha, ia berjalan di depan Rasulullah ﷺ sambil melantunkan rajaz yang membuat umat Islam bergetar:
"Oh Tuhan, kalaulah tidak karena Engkau, niscaya kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak bersedekah dan tidak salat …"

Baca juga: Ilmu Fikih: Penyebab Ikhtilaf di Kalangan Sahabat Nabi Muhammad SAW

Muktah: Simfoni Terakhir

Puncak perjuangan Ibnu Rawahah terjadi di medan perang Muktah, saat pasukan kecil Muslimin harus menghadapi pasukan Romawi yang berjumlah lebih dari 200.000 orang. Sebagian pasukan sempat gentar, bahkan ingin kembali ke Madinah untuk meminta bala bantuan.

Namun Ibnu Rawahah maju ke tengah pasukan dan berseru:
"Kawan-kawan sekalian! Kita tidak memerangi mereka karena jumlah kita atau kekuatan kita. Kita memerangi mereka untuk membela agama ini … Ayohlah, salah satu dari dua kebaikan pasti kita raih: kemenangan atau syahid!"

Dengan semangat yang kembali menyala, pasukan Muslim pun maju ke medan laga. Ketika Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib gugur sebagai panglima pertama dan kedua, panji Islam berpindah ke tangan Ibnu Rawahah. Ia maju dengan lantang, meski tubuhnya sudah dilukai banyak pedang.

"Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga … jika tidak, kau akan mati juga. Maka majulah, itulah ksatria sejati!"

Dan ia pun maju. Menebas musuh tanpa ragu, hingga tubuhnya akhirnya rebah, jiwanya terbang menghadap Rabb-nya, membawa serta syair, keberanian, dan cinta yang tak pernah pudar kepada Islam.

Baca juga: Pandangan tentang Modernisasi Tafsir: Hadis dan Pendapat Sahabat Nabi

Kabar dari Madinah

Di saat yang sama, jauh di Madinah, Rasulullah ﷺ tengah duduk bersama para sahabat ketika tiba-tiba wajah beliau berubah. Mata beliau berkaca-kaca, lalu beliau bersabda:

"Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, lalu ia gugur. Kemudian diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib, lalu ia pun gugur. Kemudian dipegang oleh Abdullah Ibnu Rawahah, lalu ia gugur pula."

Beliau menunduk sejenak, lalu tersenyum penuh cahaya seraya melanjutkan:

"Kini mereka bertiga berada di sisi-Ku di surga …"

Abdullah Ibnu Rawahah meninggalkan warisan yang tak lekang oleh waktu: keberanian melampaui ketakutan, iman yang mekar di medan laga, dan syair yang abadi sebagai suara kebenaran.

Ia mengajarkan kita bahwa jika tak gugur di medan juang, kita tetap akan mati di atas ranjang. Lebih baik memilih kemuliaan, meski harus ditebus dengan darah dan nyawa.

Di antara bait-bait syairnya yang terakhir, terselip pelajaran bagi kita semua:

"Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini — syahid di jalan Allah …"

Wallahu a’lam.

Baca juga: Riba Menurut Al-Quran: Para Sahabat Nabi Sendiri Sempat Mempraktikkan

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 23 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)