home masjid

Menampak Allah: Mengintip Surga di Balik Tirai Dunia

Senin, 14 Juli 2025 - 16:00 WIB
Siapa pun yang ingin mendapatkan kebahagiaan tertinggi kelak, harus menanam benihnya sekarang. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di banyak mimbar, lantang disampaikan bahwa menatap Allah di akhirat adalah puncak segala kenikmatan manusia. Di banyak doa, lidah melafalkan harapan untuk diberi kesempatan itu: melihat wajah Tuhan. Syariah menyebutnya sebagai kebahagiaan tertinggi, lebih tinggi dari surga dengan segala buah dan sungai-sungainya. Namun, bagi sebagian besar manusia, pengakuan itu sering berhenti di bibir, tak merembes menjadi getar di hati.

“Mengapa kita tidak merindukan sesuatu yang tidak pernah kita kenal?” begitu tanya Imam Al-Ghazali dalam Kimia Kebahagiaan, buku sufistik yang sudah berabad-abad dibaca umat Islam dari Maroko hingga Nusantara. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi menyentak. Bagaimana mungkin seseorang mendambakan perjumpaan dengan Tuhan, jika mengenal-Nya pun tidak?

Al-Ghazali memulai dengan logika sederhana: setiap kemampuan manusia, setiap fakultas yang ia punya, diciptakan untuk menemukan kepuasannya sendiri. Perut ingin kenyang, akal ingin tahu, hati ingin mencinta. Nafsu paling rendah pun menawarkan kebahagiaan dalam kadar tertentu, tetapi kegembiraan akal yang menemukan pengetahuan lebih tinggi dari sekadar kenyang. “Seseorang yang tenggelam dalam permainan catur bisa lupa makan,” tulisnya, untuk menunjukkan bahwa akal punya kenikmatan yang mengungguli jasad.

Baca juga: Mencintai Allah: Jalan Sunyi Menuju Kejernihan Jiwa Menurut Imam Al-Ghazali

Pengetahuan, kata Ghazali, punya hierarki. Rahasia seorang raja lebih menyenangkan untuk diketahui daripada rahasia seorang wazir. Maka, pengetahuan tentang Tuhan—objek tertinggi dari segala pengetahuan—melahirkan kegembiraan yang tak bisa disamai oleh apa pun. “Orang yang mengenal Allah di dunia ini sudah seperti berada di surga,” tulisnya, “yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Namun, pengenalan saja belumlah cukup. Karena pengetahuan tentang Tuhan, setinggi apa pun, tetap berada di bawah nikmat memandang wajah-Nya. Melihat langsung selalu lebih memuaskan daripada sekadar membayangkan. Itulah sebabnya, meski seorang pencinta dapat menghibur diri dengan mengingat dan membayangkan kekasihnya, puncak kebahagiaannya baru terjadi saat berjumpa langsung dengannya. Begitu pula dengan hamba terhadap Tuhannya.

Di dunia, manusia terperangkap dalam jasad lempung dan air, dalam kerumitan duniawi dan nafsu, dalam tirai kebendaan yang membuat pandangan pada Tuhan selalu kabur. Karena itulah Musa, ketika memohon melihat Tuhan di Bukit Sinai, hanya dijawab: “Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya