LANGIT7.ID-Di banyak mimbar, lantang disampaikan bahwa menatap Allah di akhirat adalah puncak segala kenikmatan manusia. Di banyak doa, lidah melafalkan harapan untuk diberi kesempatan itu: melihat wajah Tuhan. Syariah menyebutnya sebagai kebahagiaan tertinggi, lebih tinggi dari surga dengan segala buah dan sungai-sungainya. Namun, bagi sebagian besar manusia, pengakuan itu sering berhenti di bibir, tak merembes menjadi getar di hati.
“Mengapa kita tidak merindukan sesuatu yang tidak pernah kita kenal?” begitu tanya
Imam Al-Ghazali dalam
Kimia Kebahagiaan, buku sufistik yang sudah berabad-abad dibaca umat Islam dari Maroko hingga Nusantara. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi menyentak. Bagaimana mungkin seseorang mendambakan perjumpaan dengan Tuhan, jika mengenal-Nya pun tidak?
Al-Ghazali memulai dengan logika sederhana: setiap kemampuan manusia, setiap fakultas yang ia punya, diciptakan untuk menemukan kepuasannya sendiri. Perut ingin kenyang, akal ingin tahu, hati ingin mencinta. Nafsu paling rendah pun menawarkan kebahagiaan dalam kadar tertentu, tetapi kegembiraan akal yang menemukan pengetahuan lebih tinggi dari sekadar kenyang. “Seseorang yang tenggelam dalam permainan catur bisa lupa makan,” tulisnya, untuk menunjukkan bahwa akal punya kenikmatan yang mengungguli jasad.
Baca juga: Mencintai Allah: Jalan Sunyi Menuju Kejernihan Jiwa Menurut Imam Al-Ghazali Pengetahuan, kata Ghazali, punya hierarki. Rahasia seorang raja lebih menyenangkan untuk diketahui daripada rahasia seorang wazir. Maka, pengetahuan tentang Tuhan—objek tertinggi dari segala pengetahuan—melahirkan kegembiraan yang tak bisa disamai oleh apa pun. “Orang yang mengenal Allah di dunia ini sudah seperti berada di surga,” tulisnya, “yang luasnya seluas langit dan bumi.”
Namun, pengenalan saja belumlah cukup. Karena pengetahuan tentang Tuhan, setinggi apa pun, tetap berada di bawah nikmat memandang wajah-Nya. Melihat langsung selalu lebih memuaskan daripada sekadar membayangkan. Itulah sebabnya, meski seorang pencinta dapat menghibur diri dengan mengingat dan membayangkan kekasihnya, puncak kebahagiaannya baru terjadi saat berjumpa langsung dengannya. Begitu pula dengan hamba terhadap Tuhannya.
Di dunia, manusia terperangkap dalam jasad lempung dan air, dalam kerumitan duniawi dan nafsu, dalam tirai kebendaan yang membuat pandangan pada Tuhan selalu kabur. Karena itulah Musa, ketika memohon melihat Tuhan di Bukit Sinai, hanya dijawab: “Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku.”
Tetapi, Ghazali meyakinkan, benih yang ditanam di dunia akan tumbuh di akhirat. Pengetahuan tentang Tuhan yang diperoleh di bumi akan berubah menjadi penampakan Tuhan di akhirat. Dan penampakan itu tidak sama bagi semua orang. Seperti cermin yang memantulkan satu objek dengan cara yang berbeda—ada yang jernih, ada yang retak, ada yang keruh—demikian pula hati manusia memantulkan wajah Tuhan di akhirat, sesuai kebersihan dan kejernihan cinta mereka di dunia.
Baca juga: Ketika Cinta Retak: Adab dalam Mengakhiri Menurut Imam al-Ghazali Di sini,
cinta mengambil peran yang lebih menentukan daripada pengetahuan. Cinta tanpa
pengetahuan mungkin buta, tetapi pengetahuan tanpa cinta tak akan menghasilkan kebahagiaan penuh. Seorang pencinta memandang kekasihnya dengan mata yang lain, dengan hati yang lebih dalam, sehingga menikmati perjumpaan itu lebih daripada siapa pun.
Namun cinta pada Tuhan tak bisa tumbuh di hati yang masih penuh cinta pada dunia. Zuhud—melepas keterikatan pada dunia—adalah jalan yang mesti ditempuh agar cinta pada Tuhan memenuhi seluruh relung hati. Maka keadaan manusia yang berusaha melihat Tuhan di dunia ini, bagi Ghazali, seperti pencinta yang melihat kekasihnya di keremangan fajar, sambil tubuhnya digigit lebah dan kalajengking. Derita dunia menghalangi kenikmatan penuh.
Di akhirat, ketika matahari terbit, tirai tersingkap, dunia sudah ditinggalkan, binatang-binatang berbisa lenyap, maka sang pencinta akan melihat wajah kekasihnya dalam cahaya sempurna.
Abu Sulaiman, seorang
sufi, pernah berkata: “Orang yang sibuk dengan dirinya sekarang, akan sibuk dengan dirinya kelak. Dan orang yang sibuk dengan Allah sekarang, akan sibuk dengan-Nya kelak.”
Baca juga: Seni Menjadi Suami Ajaran Imam Al-Ghazali: Antara Tegas dan Kasih Ghazali menutup renungan itu dengan isyarat tentang perjalanan ruhani: bahwa siapa pun yang ingin mendapatkan kebahagiaan tertinggi kelak, harus menanam benihnya sekarang. Di bumi ini. Dengan mengenal, mencinta, dan membersihkan hati dari segala penghalang. Karena di akhirat, Tuhan akan tetap satu, tetapi hati-hati kita—seperti cermin-cermin itu—akan memantulkan-Nya dengan jernih, keruh, atau mungkin sama sekali retak.
Dan surga yang dijanjikan itu, yang luasnya seluas langit dan bumi, mungkin sebenarnya sudah mulai tumbuh di dalam hati mereka yang merindukan-Nya sejak di dunia.
(mif)