Amr bin Luhai: Dukun, Penguasa Kakbah, dan Pelopor Penyembahan Berhala
Miftah yusufpati
Senin, 14 Juli 2025 - 17:00 WIB
Orang yang pertama membuat jalan buruk tetap memikul dosa orang-orang yang melaluinya setelah ia tiada. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda dengan nada getir: “Aku melihat ‘Amr bin ‘Amir al-Khuza’i menyeret ususnya di neraka. Ia adalah orang yang pertama kali menetapkan aturan Saaibah.”
Hadis itu, yang juga memiliki penguat dalam riwayat-riwayat lain, menjadi bukti paling jelas tentang nasib tragis salah satu tokoh paling berpengaruh di jazirah Arab pada masa jahiliah: Amr bin Luhai. Seorang dukun, seorang pemimpin karismatik, seorang pelayan Kakbah—dan sekaligus pelopor penyembahan berhala yang paling dikutuk oleh Islam.
Nama lengkapnya Amr bin Amir bin Luhai al-Khuza’i. Dalam banyak kitab sirah dan tarikh, ia dikenal sebagai lelaki yang cerdas, berpengaruh, dan memiliki wibawa yang tinggi. Sebagian masyarakat Arab bahkan memujanya sebagai juru adat yang membawa “peradaban” ke Makkah. Tetapi pujian-pujian itu kini justru terdengar ironis, sebab jasa paling besar yang ia wariskan adalah menjadikan masyarakat Arab berpaling dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi para pemuja berhala.
Dalam Tarikh Makkah, kisahnya bermula ketika suku Khuza’ah memimpin penyerbuan ke Makkah, mengusir suku Jurhum, dan mengambil alih pelayan Kakbah. Amr bin Luhai muncul sebagai pemimpin mereka, seorang dukun yang juga mengaku memiliki kemampuan melihat hal gaib. Di bawah kendalinya, Makkah menjadi pusat ritual baru yang bercampur antara tradisi Ibrahim dan takhayul-takhayul jahiliah.
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Melecehkan Berhala, Lalu Memenggal Kepalanya
Dialah yang pertama kali menetapkan aturan Saaibah—yakni melepas unta tertentu untuk “dikeramatkan” dan dibiarkan lepas demi para berhala. Dalam hadis riwayat Ahmad, Nabi Muhammad menyebut jelas: “Sesungguhnya yang pertama kali membuat aturan Saaibah dan menyembah berhala adalah Abu Khuza’ah ‘Amr bin ‘Amir. Dan sungguh aku melihatnya di neraka sedang menyeret ususnya.”
Bagaimana seorang pelayan Kakbah yang seharusnya mewarisi ajaran tauhid bisa membawa berhala ke tanah haram?
Hadis itu, yang juga memiliki penguat dalam riwayat-riwayat lain, menjadi bukti paling jelas tentang nasib tragis salah satu tokoh paling berpengaruh di jazirah Arab pada masa jahiliah: Amr bin Luhai. Seorang dukun, seorang pemimpin karismatik, seorang pelayan Kakbah—dan sekaligus pelopor penyembahan berhala yang paling dikutuk oleh Islam.
Nama lengkapnya Amr bin Amir bin Luhai al-Khuza’i. Dalam banyak kitab sirah dan tarikh, ia dikenal sebagai lelaki yang cerdas, berpengaruh, dan memiliki wibawa yang tinggi. Sebagian masyarakat Arab bahkan memujanya sebagai juru adat yang membawa “peradaban” ke Makkah. Tetapi pujian-pujian itu kini justru terdengar ironis, sebab jasa paling besar yang ia wariskan adalah menjadikan masyarakat Arab berpaling dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi para pemuja berhala.
Dalam Tarikh Makkah, kisahnya bermula ketika suku Khuza’ah memimpin penyerbuan ke Makkah, mengusir suku Jurhum, dan mengambil alih pelayan Kakbah. Amr bin Luhai muncul sebagai pemimpin mereka, seorang dukun yang juga mengaku memiliki kemampuan melihat hal gaib. Di bawah kendalinya, Makkah menjadi pusat ritual baru yang bercampur antara tradisi Ibrahim dan takhayul-takhayul jahiliah.
Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Melecehkan Berhala, Lalu Memenggal Kepalanya
Dialah yang pertama kali menetapkan aturan Saaibah—yakni melepas unta tertentu untuk “dikeramatkan” dan dibiarkan lepas demi para berhala. Dalam hadis riwayat Ahmad, Nabi Muhammad menyebut jelas: “Sesungguhnya yang pertama kali membuat aturan Saaibah dan menyembah berhala adalah Abu Khuza’ah ‘Amr bin ‘Amir. Dan sungguh aku melihatnya di neraka sedang menyeret ususnya.”
Bagaimana seorang pelayan Kakbah yang seharusnya mewarisi ajaran tauhid bisa membawa berhala ke tanah haram?