Kisah Humor Sufi Narudin Hoja: Jangan Terlalu Dalam
Miftah yusufpati
Rabu, 16 Juli 2025 - 05:15 WIB
Sindiran Nasrudin melalui gentong itu lebih mengena daripada nasihat panjang lebar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sudah berulang kali Nasrudin Hoja mendatangi hakim di desanya untuk mengurus sebuah perjanjian. Tiap kali ia datang, sang hakim selalu berkata: "Wah, maaf, aku sedang sibuk… datanglah besok."
Besoknya datang lagi. "Ah, aku baru saja mau keluar… nanti saja."
Lusa datang lagi. "Wah, waktuku habis untuk urusan lain…."
Begitu terus, sampai akhirnya Nasrudin sadar: rupanya yang dimaksud “tidak punya waktu” itu sebenarnya “tidak punya sogokan”.
Namun, menyogok itu kan haram. Bagaimana caranya supaya pesan tersampaikan, tapi tetap dengan cara yang… ya, cara Nasrudin?
Maka Nasrudin menyiapkan sebuah gentong besar. Ia isi penuh dengan tahi sapi, sampai hampir ke bibir gentong. Lalu, di atasnya, diolesinya lapisan mentega yang tebal, mulus, dan mengkilap.
Selesai, ia giring gentong itu ke rumah hakim sambil tersenyum ramah.
Besoknya datang lagi. "Ah, aku baru saja mau keluar… nanti saja."
Lusa datang lagi. "Wah, waktuku habis untuk urusan lain…."
Begitu terus, sampai akhirnya Nasrudin sadar: rupanya yang dimaksud “tidak punya waktu” itu sebenarnya “tidak punya sogokan”.
Namun, menyogok itu kan haram. Bagaimana caranya supaya pesan tersampaikan, tapi tetap dengan cara yang… ya, cara Nasrudin?
Maka Nasrudin menyiapkan sebuah gentong besar. Ia isi penuh dengan tahi sapi, sampai hampir ke bibir gentong. Lalu, di atasnya, diolesinya lapisan mentega yang tebal, mulus, dan mengkilap.
Selesai, ia giring gentong itu ke rumah hakim sambil tersenyum ramah.