Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 24 April 2026
home masjid detail berita

Kisah Humor Sufi Narudin Hoja: Jangan Terlalu Dalam

miftah yusufpati Rabu, 16 Juli 2025 - 05:15 WIB
Kisah Humor Sufi Narudin Hoja: Jangan Terlalu Dalam
Sindiran Nasrudin melalui gentong itu lebih mengena daripada nasihat panjang lebar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sudah berulang kali Nasrudin Hoja mendatangi hakim di desanya untuk mengurus sebuah perjanjian. Tiap kali ia datang, sang hakim selalu berkata: "Wah, maaf, aku sedang sibuk… datanglah besok."

Besoknya datang lagi. "Ah, aku baru saja mau keluar… nanti saja."

Lusa datang lagi. "Wah, waktuku habis untuk urusan lain…."

Begitu terus, sampai akhirnya Nasrudin sadar: rupanya yang dimaksud “tidak punya waktu” itu sebenarnya “tidak punya sogokan”.

Namun, menyogok itu kan haram. Bagaimana caranya supaya pesan tersampaikan, tapi tetap dengan cara yang… ya, cara Nasrudin?

Maka Nasrudin menyiapkan sebuah gentong besar. Ia isi penuh dengan tahi sapi, sampai hampir ke bibir gentong. Lalu, di atasnya, diolesinya lapisan mentega yang tebal, mulus, dan mengkilap.

Selesai, ia giring gentong itu ke rumah hakim sambil tersenyum ramah.

Baca juga: Kisah Humor Nasrudin Hoja: Jubah-Jubah yang Diselundupkan

Begitu melihat Nasrudin datang membawa gentong mentega, wajah sang hakim langsung berseri-seri. "Wah, Nasrudin sahabatku! Tentu saja aku ada waktu! Mana itu perjanjian? Mari kutandatangani sekarang juga!"

Sret, sret, tanda tangan pun selesai.

Nasrudin menyerahkan gentong itu sambil bertanya polos: "Tuan Hakim, apakah pantas Tuan mengambil gentong mentega ini sebagai ganti tanda tangan Tuan?"

Sang hakim tersenyum lebar, mencolek sedikit mentega di ujung jarinya, mencicipinya, dan berkata: "Ah, jangan terlalu dalam dipikirkan, Nasrudin. Ini hanya… sekadar tanda terima kasih."

Nasrudin membungkuk hormat, sambil berbisik: "Benar sekali, Tuan. Jangan terlalu dalam."

Lalu ia pun pergi, meninggalkan sang hakim yang asyik menyendok mentega — tanpa tahu bahwa semakin dalam dia menyendok, semakin jauh dari mentega dan semakin dekat ke… kenyataan.

Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Membaca Jalan Pikiran yang Terbalik

---

Hikmah dari kisah humor sufi Nasrudin di atas cukup dalam, meski dikemas dengan kelucuan:

1. Tamak itu membutakan hati.

Sang hakim begitu tamak pada “mentega” sampai-sampai lupa bahwa di bawah lapisan tipis itu ada kotoran. Orang yang serakah sering hanya melihat yang di permukaan tanpa memikirkan akibatnya.

2. Jangan hanya menilai dari luar.

Mentega yang tampak lezat di atas bisa menutupi isi yang busuk di bawah. Demikian pula, dalam kehidupan, tidak semua yang tampak baik itu benar-benar baik. Kita harus cermat melihat apa yang ada di baliknya.

3. Cara yang cerdas lebih baik daripada cara yang kotor.

Nasrudin tidak mau melakukan suap secara terang-terangan. Ia memilih cara cerdik untuk menunjukkan pada hakim bahwa perilakunya itu sama seperti menyendok tahi: tampak enak di awal, tapi sebenarnya menjijikkan dan salah.

4. Kebenaran kadang harus disampaikan dengan sindiran.

Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Di Bawah Pohon Arbei

Sindiran Nasrudin melalui gentong itu lebih mengena daripada nasihat panjang lebar. Kadang, sindiran halus lebih efektif untuk menyadarkan orang yang keras kepala.

5. Jangan terlalu dalam… kalau tidak siap dengan akibatnya.

Ini sindiran telak untuk hakim: kalau terlalu dalam menyelami kerakusan atau kejahatan, kita sendiri yang akan terperosok ke dalam lumpur.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 24 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)