LANGIT7.ID-Suatu siang yang tenang,
Nasrudin Hoja duduk bersantai di bawah pohon arbei di kebunnya. Angin berhembus pelan, burung-burung berceloteh riang, dan matahari menyinari kebun dengan lembut.
Sambil menyandarkan punggung ke batang pohon, ia memandangi kebunnya yang luas. Pandangannya jatuh pada tanaman labu yang merambat di tanah, dengan buah-buah besar menggantung, ranum dan mengkilap. Lalu ia menengadah, melihat ke atas, ke dahan-dahan arbei yang kokoh, yang hanya menghasilkan buah kecil-kecil.
Sambil mengelus jenggotnya, Nasrudin merenung keras.
“Aneh benar,” gumamnya, “kenapa pohon arbei yang besar dan kuat ini hanya bisa menghasilkan buah kecil? Padahal labu itu… hanya batang lunak merambat di tanah… bisa menghasilkan buah yang besar-besar.”
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Melihat Apa Adanya Ia geleng-geleng kepala, berusaha mencari hikmahnya.
Tiba-tiba, angin berhembus sedikit lebih kencang, ranting arbei bergoyang, dan… plok! Sebiji arbei ranum jatuh tepat di kepalanya yang kebetulan sedang tidak bersorban.
Nasrudin terkejut, lalu mengusap kepalanya sambil meringis.
Lalu perlahan wajahnya tersenyum, matanya berbinar seolah baru mendapat pencerahan.
“Ah… kurasa sekarang aku tahu sebabnya.”
Kalau yang jatuh itu sebesar labu, mungkin Nasrudin sudah terkapar tak sadarkan diri!
---
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin Hoja: Belajar Bahasa Kurdi Hikmah dari kisah humor sufi tentang Nasrudin di bawah pohon arbei itu sederhana tetapi dalam:
- Segala sesuatu sudah pada tempatnya, sesuai dengan hikmah Sang Pencipta.
Nasrudin awalnya mempertanyakan: kenapa pohon yang besar hanya menghasilkan buah kecil, sementara tanaman lemah seperti labu menghasilkan buah besar? Namun, ketika sebiji arbei kecil jatuh di kepalanya, ia sadar — kalau pohon itu berbuah sebesar labu, dan buahnya jatuh dari atas, pasti akan mencelakakan dirinya.
Dari situ kita belajar:
1. Jangan tergesa menganggap rancangan alam (atau takdir) itu keliru.
2. Tidak semua yang tampak tidak “adil” itu benar-benar salah — justru ada kebijaksanaan tersembunyi di baliknya.
3. Kadang kita baru menyadari hikmah setelah merasakan sendiri akibatnya.
Jadi, seperti Nasrudin, mari belajar menerima dan bersyukur: semua sudah diatur dengan proporsional dan penuh rahmat.
Baca juga: Kisah Humor Sufi Nasrudin: Belajar Mencari Kebenaran dengan Sabar(mif)