Mu’adz bin Jabal: Sang Cendekia yang Merangkul Maut
Miftah yusufpati
Jum'at, 18 Juli 2025 - 05:45 WIB
Sang sahabat itu beristirahat di tanah Amwas, dengan gelar yang tak pernah pudar: orang yang paling tahu tentang halal dan haramdan yang paling siap merangkul maut dengan penuh cinta. Ilustrasi: AI
LANGIT.ID-Mu’adz bin Jabal, sahabat muda Nabi yang paling paham halal-haram, wafat di puncak wabah Tha’un di negeri Syam, setelah menyerahkan hidupnya untuk ilmu dan iman.
Udara di dataran Amwas, Palestina, terasa berat dan pengap di tahun 17 Hijriyah. Seakan seluruh tanah Syam menahan napas. Borok-borok mekar di kulit para penduduk, satu demi satu roboh. Wabah itu, yang oleh orang-orang disebut Tha’un Amwas, melahap manusia dalam ribuan, meninggalkan jalan-jalan sunyi penuh jenazah.
Di salah satu tenda yang penuh isak, tubuh tinggi dan gagah Mu’adz bin Jabal sudah rebah lemah. Tangannya, yang dulu kerap menulis fatwa dan menunjuk arah bagi umat, kini terjulur seperti hendak bersalaman dengan malaikat maut. “Selamat datang wahai maut,” bisiknya, “kekasih yang tiba di saat diperlukan.”
Tak lama, Mu’adz, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai “orang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”, pergi untuk selamanya. Usianya baru 33 tahun.
Baca juga: Karakteristik Fikih Sahabat Nabi Muhammad SAW: Lahirnya Syiah dan Sunni
Nama lengkapnya Mu’adz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, julukannya Abu Abdurrahman. Lahir di Madinah, ia baru 18 tahun ketika datang berbai’at kepada Nabi di Aqabah bersama rombongan 70-an orang dari Madinah. Fisiknya gagah, berkulit putih, rambutnya ikal, giginya putih berkilau.
Semenjak memeluk Islam, ia kembali ke Madinah sebagai dai muda. Beberapa pemuka kaum, seperti Amru bin al-Jamuh, masuk Islam lewat dakwahnya. Rasulullah lalu mempersaudarakannya dengan Ja’far bin Abi Thalib, dan mengutusnya menjadi guru di Yaman.
Udara di dataran Amwas, Palestina, terasa berat dan pengap di tahun 17 Hijriyah. Seakan seluruh tanah Syam menahan napas. Borok-borok mekar di kulit para penduduk, satu demi satu roboh. Wabah itu, yang oleh orang-orang disebut Tha’un Amwas, melahap manusia dalam ribuan, meninggalkan jalan-jalan sunyi penuh jenazah.
Di salah satu tenda yang penuh isak, tubuh tinggi dan gagah Mu’adz bin Jabal sudah rebah lemah. Tangannya, yang dulu kerap menulis fatwa dan menunjuk arah bagi umat, kini terjulur seperti hendak bersalaman dengan malaikat maut. “Selamat datang wahai maut,” bisiknya, “kekasih yang tiba di saat diperlukan.”
Tak lama, Mu’adz, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai “orang paling tahu tentang yang halal dan yang haram”, pergi untuk selamanya. Usianya baru 33 tahun.
Baca juga: Karakteristik Fikih Sahabat Nabi Muhammad SAW: Lahirnya Syiah dan Sunni
Nama lengkapnya Mu’adz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, julukannya Abu Abdurrahman. Lahir di Madinah, ia baru 18 tahun ketika datang berbai’at kepada Nabi di Aqabah bersama rombongan 70-an orang dari Madinah. Fisiknya gagah, berkulit putih, rambutnya ikal, giginya putih berkilau.
Semenjak memeluk Islam, ia kembali ke Madinah sebagai dai muda. Beberapa pemuka kaum, seperti Amru bin al-Jamuh, masuk Islam lewat dakwahnya. Rasulullah lalu mempersaudarakannya dengan Ja’far bin Abi Thalib, dan mengutusnya menjadi guru di Yaman.