home masjid

Kisah Nabi Ibrahim: Lembah Tujuh Tempat Kambing Membawa Air Kembali

Sabtu, 19 Juli 2025 - 04:15 WIB
Begitu Ibrahim pergi, sumur-sumur mereka mengering. Air yang dulu melimpah kini menjadi lumpur di dasar sumur. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah lembah sunyi di Syam, kisah itu masih bergaung hingga kini. Orang-orang menyebutnya Wadi Sab’i—Lembah Tujuh. Di sinilah Nabi Ibrahim AS pernah menetap, dengan kawanan ternaknya yang konon mencapai 12.000 ekor kambing.

Di antara padang yang luas dan sumur-sumur yang memancur deras, Ibrahim hidup dengan limpahan rezeki. Setiap kawanan dijaga seekor anjing berbulu halus, mengenakan kalung emas, dan balutan sutra warna-warni di tubuhnya. Namun, di balik kemewahan itu, Ibrahim tidak pernah makan sendiri.

Setiap sore, jika belum juga ada tamu yang datang, ia akan berjalan jauh, beberapa mil, hanya untuk mencari seseorang yang bisa diajak makan bersama. Syair-syair Arab kuno mengenangnya sebagai lelaki yang berkata:

"Malam tidak akan menyenangkan apabila di waktu itu tidak ada tamu yang mau tinggal. Dan pagi tidak akan menggembirakan apabila pada saat itu tamu yang ada padaku pergi."

Baca juga: Api, Kapak, dan Kekasih Tuhan: Tafsir Pembakaran Nabi Ibrahim pada 10 Muharram

Dalam sebuah riwayat, ia disebut sebagai manusia pertama yang menjamu tamu dan manusia pertama yang beruban. Suatu hari, ketika melihat helai-helai putih di janggutnya, Ibrahim bertanya pada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, apa ini?” Allah menjawab, “Itu adalah kewibawaan.” Mendengar itu, Ibrahim berdoa, “Kalau begitu, tambahkanlah kewibawaanku.” Seketika janggutnya memutih semua.

Namun, harta yang melimpah dan kawanan ternak yang tak terhitung justru membuat orang-orang di sekitarnya resah. Tanah terasa sempit, rumput habis, sumur-sumur dipadati hewan Ibrahim. Suatu hari, para penduduk datang padanya dan berkata, “Hai Saleh, pergilah dari negeri kami. Engkau telah menyempitkan tanah kami dengan ternakmu.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya