LANGIT7.ID-, - Prosesi pemakaman
Ayatollah Ali Khamenei di Najaf dan
Karbala, Irak sempat diwarnai kericuhan. Ribuan pelayat yang hadir di sana saling berebut ingin mendekati peti mati mendiang Pemimpin Tertinggi Iran tersebut.
Irak menjadi salah satu negara yang dituju sebagai bagian dari upacara
pemakaman Khamenei, yang berlangsung selama beberapa hari.
Pada beberapa momen, suasana menjadi kacau, dengan para pelayat mengerumuni peti mati, memaksa para pengusung peti mati untuk menurunkannya agar tidak kehilangan kendali, dilansir dari AP, Kamis (9/7/2026).
Baca juga: Iran Umumkan Daftar Negara yang Hadir di Pemakaman Khamenei, Indonesia Tak Ada dalam ListDi Karbala, kerumunan orang berulang kali mengerumuni peti mati, yang hampir jatuh beberapa kali dalam perjalanan antara dua makam. Di dalam Masjid Imam al-Abbas, panitia memutuskan untuk menurunkan peti mati dalam upaya untuk menghentikan orang-orang yang mendorong maju untuk memohon berkah atau ikut serta dalam membawa peti mati.
Upacara pemakaman Khamenei dimulai pada hari Sabtu, dengan pihak berwenang menutup jalan-jalan, wilayah udara, dan kehidupan sehari-hari di Teheran, ibu kota Iran, saat kerumunan orang memperingati Khamenei.
Jenazah Khamenei kemudian dibawa dari Najaf ke Karbala sebelum dikembalikan ke Iran.
Khamenei tewas pada akhir Februari dalam serangan besar-besaran AS dan Israel terhadap Iran yang memicu perang.
Pemimpin Tertinggi berusia 86 tahun itu termasuk di antara beberapa pemimpin senior Iran yang tewas dalam serangan selama perang.
Jenazah Khamenei tiba pada hari Selasa di Najaf, yang dianggap sebagai salah satu kota tersuci bagi jutaan Muslim Syiah di seluruh dunia. Para pelayat yang memegang potret Khamenei menyambut jenazah dan para pejabat senior yang mengawalinya, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Jenazah ditempatkan dalam peti mati yang diselimuti bendera Republik Islam dan dibingkai dengan kaca.
Baca juga: Amerika Cegah 13 Negara Hadiri Pemakaman Khamenei di Iran Melalui Kampanye DiplomatikBeberapa pendukung tampak mengibarkan bendera Iran serta bendera merah dan hitam yang melambangkan duka cita dan pembalasan.
Muhammad Taqi al-Hakim, seorang ulama senior di seminari Najaf, memimpin salat jenazah di Makam Imam Ali, sepupu dan menantu Nabi Muhammad.
“Kami, rakyat Irak, akan tetap menjadi duri di mata musuh,” kata Jaafar Jawad, salah seorang pelayat. (Kedatangan jenazahnya di sini) adalah kehormatan terbesar, dan insya Allah, kami akan setia dan membalas sebagian hutangnya di kota suci Najaf,” katanya.
Sementara itu, Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, belum muncul dalam upacara pemakaman, yang berlangsung selama beberapa hari.
Ia diyakini bersembunyi setelah dilaporkan terluka dalam serangan udara yang menewaskan ayahnya.
(est)