Syukur Sepanjang Waktu: Ketika Alhamdulillah Menjadi Gaya Hidup dan Jalan Kesadaran
Miftah yusufpati
Kamis, 24 Juli 2025 - 16:41 WIB
Dalam dunia yang terburu-buru, syukur adalah bentuk perlawanan. Ia mengajari manusia untuk jeda, untuk sadar, untuk menghargai. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di ruang yang hening, di tengah malam yang sunyi, seorang hamba bangkit dari tidur. Di bibirnya, lirih terdengar ucapan, “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami.” Tak ada tepuk tangan, tak ada sorot kamera. Tapi di langit, mungkin para malaikat mencatatnya sebagai satu di antara sekian pujian yang mewarnai perjalanan hidup manusia.
Ucapan itu bukan rutinitas, bukan pula formalitas. Ia adalah kesadaran: bahwa hidup adalah pemberian, dan karena itu, harus disyukuri. Inilah yang hendak ditekankan oleh ayat pertama dari Surah Saba’, “Segala puji bagi Allah yang memelihara apa yang ada di langit dan di bumi, dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat.” (QS Saba’ [34]:1). Syukur tak terikat waktu. Ia abadi—di dunia dan di akhirat.
Alhamdulillah di Surga
Di akhirat kelak, menurut Al-Qur’an (QS Al-A’raf [7]:43), mereka yang masuk surga tidak mengucap slogan, tidak juga menyombongkan amalan. Yang mereka ucapkan adalah syukur. “Segala puji bagi Allah yang memberi petunjuk kepada kami. Kami tidak memperoleh petunjuk ini, seandainya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami.”
Syukur di surga adalah bukti bahwa pujian kepada Allah bukan hanya ritual duniawi. Ia adalah laku spiritual yang lintas alam, lintas dimensi. Bahkan di tempat sempurna seperti surga, manusia tetap mengucapkan *Alhamdulillah.*
Baca juga: Apa yang Harus Disyukuri? Berikut Ini Penjelasan Quraish Shihab
Di dunia, siang dan malam terus bergulir. Tapi bagi sebagian orang, pergantian waktu hanya artinya deadline, jam kerja, atau jadwal rapat. Padahal, Al-Qur’an menyebutnya sebagai ruang kontemplasi dan waktu bersyukur: “Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS Al-Furqan [25]:62)
Ucapan itu bukan rutinitas, bukan pula formalitas. Ia adalah kesadaran: bahwa hidup adalah pemberian, dan karena itu, harus disyukuri. Inilah yang hendak ditekankan oleh ayat pertama dari Surah Saba’, “Segala puji bagi Allah yang memelihara apa yang ada di langit dan di bumi, dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat.” (QS Saba’ [34]:1). Syukur tak terikat waktu. Ia abadi—di dunia dan di akhirat.
Alhamdulillah di Surga
Di akhirat kelak, menurut Al-Qur’an (QS Al-A’raf [7]:43), mereka yang masuk surga tidak mengucap slogan, tidak juga menyombongkan amalan. Yang mereka ucapkan adalah syukur. “Segala puji bagi Allah yang memberi petunjuk kepada kami. Kami tidak memperoleh petunjuk ini, seandainya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami.”
Syukur di surga adalah bukti bahwa pujian kepada Allah bukan hanya ritual duniawi. Ia adalah laku spiritual yang lintas alam, lintas dimensi. Bahkan di tempat sempurna seperti surga, manusia tetap mengucapkan *Alhamdulillah.*
Baca juga: Apa yang Harus Disyukuri? Berikut Ini Penjelasan Quraish Shihab
Di dunia, siang dan malam terus bergulir. Tapi bagi sebagian orang, pergantian waktu hanya artinya deadline, jam kerja, atau jadwal rapat. Padahal, Al-Qur’an menyebutnya sebagai ruang kontemplasi dan waktu bersyukur: “Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS Al-Furqan [25]:62)