home masjid

Kisah Nabi Ibrahim: Menggugat Tuhan-Tuhan Kosmetik

Jum'at, 25 Juli 2025 - 05:45 WIB
Di tengah malam yang panjang dan penuh pertanyaan, Ibrahim menyadari: yang bersinar belum tentu berkuasa. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sebuah malam yang penuh bintang sering melahirkan keheningan. Tapi di benak seorang anak muda bernama Ibrahim, langit malam justru menggema pertanyaan besar: apakah benda-benda yang berkilau ini—matahari, bulan, bintang—layak disembah sebagai Tuhan?

Ibrahim tidak segera menjawab pertanyaannya sendiri. Ia mengamati. Ia menimbang. Ia melihat bintang bersinar, lalu tenggelam. Ia melihat bulan bersinar terang, lalu menghilang. Ia menyaksikan matahari yang agung, lalu perlahan tenggelam ke barat. Dan pada akhirnya ia mengucapkan kesimpulannya: “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS al-An’am [6]:76–79)

Bagi Ibrahim, Tuhan sejati tidak tunduk pada siklus alam. Tidak muncul lalu hilang. Tidak kuat di siang lalu lenyap saat malam. Tuhan, menurut penelitiannya, bukan bagian dari ciptaan, tapi penguasa atasnya.

Dalam buku Ar-Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW karya Ja’far Subhani, dijelaskan bagaimana proses kontemplatif ini membentuk fondasi rasional dalam keimanan seorang nabi. Ia tak memulai dengan dogma, tapi dengan akal sehat. Ia tak membangun keimanan lewat paksaan, tapi lewat observasi. Dan lebih dari itu, ia tak mendewakan benda-benda langit, karena ia sadar: yang bergerak pasti digerakkan. Dan yang tunduk pada hukum rotasi, pasti bukan pencipta hukum itu sendiri.

“Wujud-wujud yang cerah dan bersinar itu sendiri tunduk pada ketetapan—terbit, terbenam, dan lenyap—menurut sistem tertentu… Ini membuktikan bahwa mereka tunduk pada kehendak dari sesuatu yang lain,” tulis Subhani.

Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim: Lembah Tujuh Tempat Kambing Membawa Air Kembali

Menggugat Tuhan-Tuhan Kosmetik
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya