home masjid

Ketika Al-Qur’an dan Sains Modern Bertemu di Titik Rasionalitas

Sabtu, 26 Juli 2025 - 05:15 WIB
Di zaman yang digandrungi oleh AI dan teknologi molekuler, narasi Bucaille terasa seperti sapuan kuas tua di kanvas digital. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di antara deru mesin partikel di CERN dan percakapan tentang sel punca di laboratorium medis Eropa, nyaris tak terdengar bisik tentang Wahyu. Kitab suci dan tabung reaksi bukan pasangan yang umum dijodohkan. Tetapi itulah yang membuat pendekatan Maurice Bucaille, seorang dokter pribadi Raja Faisal yang kemudian menjadi pengkaji teks suci, terasa seperti gangguan dalam simfoni sekularisme ilmiah Eropa.

Ketika karyanya, La Bible, le Coran et la Science (Bibel, Qur’an, dan Sains), diterbitkan pertama kali pada 1976, ia seperti membalikkan meja di ruang makan para pemikir Barat: menyandingkan Al-Qur’an dengan hasil-hasil sains mutakhir. Dan bukan untuk menyerang, melainkan untuk menunjukkan harmoni. Harmoni yang, bagi sebagian besar ilmuwan yang dibesarkan dalam paradigma positivistik, terasa nyaris seperti penistaan intelektual.

Di Prancis, tempat Bucaille dibesarkan, pembicaraan tentang agama dalam konteks ilmiah nyaris selalu berhenti di dua titik: Yudaisme dan Kristen.

Islam, sebagaimana dikeluhkan Bucaille dalam catatannya, bahkan tak masuk hitungan. “Jika seseorang berbicara tentang agama, maka yang dimaksud biasanya adalah agama Yahudi atau Kristen,” tulisnya.

Baca juga: Siapa Menulis Taurat? Jejak di Balik Lima Kitab Menurut Maurice Bucaille

Islam dianggap terlalu asing—bahkan eksotik—untuk dibawa ke meja diskusi filsafat sains. Tak heran jika Qur’an, dalam banyak literatur akademik di Eropa kala itu, hanya muncul sebagai catatan kaki peradaban.

Lebih dari sekadar marginalisasi, Bucaille menyebut adanya systematic dismissal, penolakan sistematis terhadap Islam, sering kali dilakukan dengan cara yang lebih berbahaya: distorsi fakta.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya