Dua Saksi, Satu Kebenaran: Kisah Ummul Mukminin Meralat Fatwa Abu Hurairah
Miftah yusufpati
Ahad, 27 Juli 2025 - 05:15 WIB
Abu Hurairah mundur, dan sejarah mencatatnya bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai kebesaran. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pagi itu, aroma perdebatan menguar di antara lorong-lorong Madinah. Abu Bakar bin Abdurrahman, seorang tabiin muda dari kalangan terpelajar, pulang membawa keresahan. Ucapan Abu Hurairah, sahabat yang terkenal karena keluasan hafalannya, menggantung di benaknya: "Barang siapa yang pagi hari masih dalam keadaan junub, maka sebaiknya tidak berpuasa."
Abu Bakar segera menyampaikan pernyataan itu kepada ayahnya, Abdurrahman bin al-Harits. Reaksi sang ayah mengejutkannya. Ia tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Tidak cukup dengan diskusi di antara mereka, keduanya memutuskan untuk bertanya langsung kepada dua istri Nabi Muhammad, Aisyah dan Ummu Salamah, dua perempuan yang menyimpan banyak fragmen kehidupan Rasul.
Jawaban mereka pun lugas, nyaris serempak. "Nabi SAW pernah bangun pagi dalam keadaan junub, bukan karena mimpi, lalu beliau tetap berpuasa."
Pernyataan ini tidak hanya membantah pandangan Abu Hurairah, tetapi juga membuka kembali diskursus lama soal siapa yang paling berwenang bicara tentang kehidupan Nabi—yang menyaksikan langsung, atau yang hanya mendengar dari orang lain.
Baca juga: Kisah Ummul Mukminin Menolak Fatwa Umar dan Ibnu Umar
Ketika Abdurrahman kembali menemui Abu Hurairah dan menyampaikan keterangan dari dua Ummahatul Mukminin itu, Abu Hurairah tidak membantah. Ia justru menerima dan berkata, "Kedua wanita itu lebih tahu daripada aku." Sebuah pengakuan yang langka dari sosok yang dikenal sebagai periwayat hadis terbanyak.
Ia pun menyatakan bahwa ucapannya berasal dari riwayat Fadhal bin Abbas, bukan dari Rasul langsung. "Hal itu aku dengar dari Fadhal dan aku tidak pernah mendengarnya dari Rasulullah SAW," katanya.
Abu Bakar segera menyampaikan pernyataan itu kepada ayahnya, Abdurrahman bin al-Harits. Reaksi sang ayah mengejutkannya. Ia tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Tidak cukup dengan diskusi di antara mereka, keduanya memutuskan untuk bertanya langsung kepada dua istri Nabi Muhammad, Aisyah dan Ummu Salamah, dua perempuan yang menyimpan banyak fragmen kehidupan Rasul.
Jawaban mereka pun lugas, nyaris serempak. "Nabi SAW pernah bangun pagi dalam keadaan junub, bukan karena mimpi, lalu beliau tetap berpuasa."
Pernyataan ini tidak hanya membantah pandangan Abu Hurairah, tetapi juga membuka kembali diskursus lama soal siapa yang paling berwenang bicara tentang kehidupan Nabi—yang menyaksikan langsung, atau yang hanya mendengar dari orang lain.
Baca juga: Kisah Ummul Mukminin Menolak Fatwa Umar dan Ibnu Umar
Ketika Abdurrahman kembali menemui Abu Hurairah dan menyampaikan keterangan dari dua Ummahatul Mukminin itu, Abu Hurairah tidak membantah. Ia justru menerima dan berkata, "Kedua wanita itu lebih tahu daripada aku." Sebuah pengakuan yang langka dari sosok yang dikenal sebagai periwayat hadis terbanyak.
Ia pun menyatakan bahwa ucapannya berasal dari riwayat Fadhal bin Abbas, bukan dari Rasul langsung. "Hal itu aku dengar dari Fadhal dan aku tidak pernah mendengarnya dari Rasulullah SAW," katanya.