home masjid

Mencari Diri: Ketika Ilmu Terkatung dan Wahyu Menuntun pada Hakikat Manusia

Sabtu, 02 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7-ID- Dalam bukunya yang berpengaruh, "Man the Unknown', ilmuwan pemenang Nobel, Dr. Alexis Carrel, menyatakan kegelisahan ilmiah yang mendalam: manusia, meski hidup bersama dirinya sepanjang sejarah, masih tetap menjadi makhluk yang paling misterius. "Kita hanya mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita," tulisnya, "dan itu pun berdasarkan tata cara berpikir kita sendiri." Kalimat itu mencerminkan satu hal: ilmu pengetahuan modern, setajam apa pun perangkatnya, belum mampu mengurai hakikat manusia secara menyeluruh.

Pernyataan Carrel, yang lahir dari laboratorium ilmu hayat modern, beririsan dengan satu ayat penting dalam Al-Qur'an:

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: 'Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.'" (QS Al-Isra’ [17]: 85).

Inilah letak keterbatasan sains. Ia mampu membedah jantung, memetakan genetik, memanipulasi hormon, bahkan meniru perilaku melalui AI. Tapi roh—elemen ilahiah dalam manusia—tetap tak tersentuh oleh mikroskop atau algoritma. Maka, dalam konteks ini, wahyu menjadi alternatif epistemologis yang tak hanya layak, tetapi juga mutlak untuk dipertimbangkan.

Baca juga: Ketika Cendekiawan Muslim Mulai Mempelajari Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Yunani

Setidaknya ada tiga alasan mendasar, menurut Carrel, mengapa manusia sulit memahami dirinya secara utuh:

1. Keterlambatan fokus ilmu terhadap manusia.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya