Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home masjid detail berita

Mencari Diri: Ketika Ilmu Terkatung dan Wahyu Menuntun pada Hakikat Manusia

miftah yusufpati Sabtu, 02 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Mencari Diri: Ketika Ilmu Terkatung dan Wahyu Menuntun pada Hakikat Manusia
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7-ID- Dalam bukunya yang berpengaruh, "Man the Unknown', ilmuwan pemenang Nobel, Dr. Alexis Carrel, menyatakan kegelisahan ilmiah yang mendalam: manusia, meski hidup bersama dirinya sepanjang sejarah, masih tetap menjadi makhluk yang paling misterius. "Kita hanya mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita," tulisnya, "dan itu pun berdasarkan tata cara berpikir kita sendiri." Kalimat itu mencerminkan satu hal: ilmu pengetahuan modern, setajam apa pun perangkatnya, belum mampu mengurai hakikat manusia secara menyeluruh.

Pernyataan Carrel, yang lahir dari laboratorium ilmu hayat modern, beririsan dengan satu ayat penting dalam Al-Qur'an:
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: 'Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.'" (QS Al-Isra’ [17]: 85).

Inilah letak keterbatasan sains. Ia mampu membedah jantung, memetakan genetik, memanipulasi hormon, bahkan meniru perilaku melalui AI. Tapi roh—elemen ilahiah dalam manusia—tetap tak tersentuh oleh mikroskop atau algoritma. Maka, dalam konteks ini, wahyu menjadi alternatif epistemologis yang tak hanya layak, tetapi juga mutlak untuk dipertimbangkan.

Baca juga: Ketika Cendekiawan Muslim Mulai Mempelajari Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Yunani

Setidaknya ada tiga alasan mendasar, menurut Carrel, mengapa manusia sulit memahami dirinya secara utuh:

1. Keterlambatan fokus ilmu terhadap manusia.

Sejak zaman purba hingga Renaisans, perhatian manusia tersedot pada penaklukan alam—membuat alat, memproduksi pangan, membangun kota. Bahkan era modern lebih terpaku pada pengendalian materi ketimbang pemahaman atas jiwa.

2. Sifat akal manusia yang menolak kompleksitas.

Henri Bergson—filsuf Prancis kontemporer Carrel—menyatakan bahwa akal manusia cenderung berpikir secara linier dan mekanistik, sehingga gagal menangkap dimensi spiritual dan transenden dari eksistensi manusia.

3. Kompleksitas manusia itu sendiri.

Tubuh, jiwa, akal, emosi, sejarah, budaya, lingkungan, semua berkelindan dalam satu entitas bernama manusia. Ini membuat definisi tunggal atas manusia menjadi mustahil.

Agamawan merespons kegamangan ini dengan pendekatan lain: jika sains buntu, maka wahyu adalah cahaya alternatif. Tapi bukan wahyu yang ditarik sepotong-sepotong. Melainkan melalui tafsir maudhu’i—yakni metode penafsiran tematik yang merujuk pada seluruh ayat Al-Qur’an yang relevan secara menyeluruh dan sistemik.

Baca juga: 750 Ayat Kauniyah: Al-Quran Tidak Sama dengan Kitab Ilmu Pengetahuan

Antara Basyar dan Insan: Dua Wajah Manusia

Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah berbeda untuk menunjuk manusia. Namun dua di antaranya paling signifikan: basyar dan insan. Masing-masing mengandung konotasi filosofis yang penting untuk menafsirkan hakikat manusia menurut wahyu.

1. Basyar: Tubuh dan Kedewasaan

Kata basyar muncul lebih dari 30 kali dalam Al-Qur’an. Akar katanya berasal dari basyarah yang berarti kulit. Dalam Tafsir al-Kabir, Imam Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa kata ini menunjuk pada sisi lahiriah dan biologis manusia. Ia tampak, bisa disentuh, tumbuh, berkembang, dan akhirnya dewasa.

Dalam QS Al-Kahfi [18]:110, Nabi Muhammad SAW sendiri ditegaskan sebagai *basyar* yang diberi wahyu:

"Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah seorang basyar seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku."

Sementara dalam QS Al-Rum [30]: 20 disebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah, lalu menjadi basyar yang bertebaran—menandakan fungsi sosial dan biologis manusia sebagai makhluk hidup yang tumbuh, berkembang biak, dan mencari penghidupan.

2. Insan: Totalitas dan Kesadaran

Berbeda dengan basyar, kata insan mengacu pada keseluruhan entitas manusia: jiwa dan raga, akal dan emosi, tubuh dan kesadaran. Dalam buku Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa istilah insan mengandung makna kedalaman spiritual dan dimensi moral manusia. Ia bukan sekadar makhluk hidup, tapi juga makhluk sadar dan bertanggung jawab.

Baca juga: Al-Qur'an dan Ilmu Pengetahuan: Sifat Penemuan Ilmiah

Kata insan, menurut Quraish Shihab, juga terkait dengan kelemahan dan kelupaan manusia, sekaligus potensi luhur yang dimilikinya. Hal ini tercermin dalam QS Al-‘Alaq [96]:2: "Dia menciptakan manusia dari segumpal darah (alaq)."

Dan dalam QS Al-Insan [76]:1: "Bukankah telah datang kepada manusia waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?"

Lebih jauh, Quraish menekankan bahwa perbedaan penggunaan kata basyar dan *insan* dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa pemahaman terhadap manusia mesti dilakukan secara holistik, tidak hanya dari aspek biologisnya sebagai basyar, melainkan juga dari dimensi rohani, akhlak, dan intelektualnya sebagai insan.

Dari Ilmu ke Iman

Gabungan makna basyar dan insan membawa kita pada pemahaman integral: manusia adalah makhluk biologis sekaligus spiritual, material sekaligus moral. Maka pengenalan terhadap manusia tidak bisa hanya melalui pendekatan biologi, psikologi, atau filsafat saja. Harus ada ruang untuk wahyu, sebagai sumber pengetahuan yang mengarahkan manusia pada hakikat tertingginya.

Quraish Shihab menyimpulkan dengan tajam: “Manusia tidak akan utuh dipahami kecuali jika dimasukkan dimensi ruhnya, dan dimensi ini hanya bisa dikenali melalui wahyu.”

Baca juga: Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan: Konteks antara Kata atau Ayat

Inilah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan ontologis sekaligus antropologis. Ia bukan hanya menjawab “apa itu manusia”, tapi juga “untuk apa manusia”, “dari mana dia datang”, dan “ke mana dia akan kembali”.

Maka, bila Alexis Carrel mengakui bahwa sains belum mengenal manusia secara utuh, maka Al-Qur’an mengajukan jalan terang. Manusia bukan sekadar basyar yang berjalan dan makan, bukan sekadar tubuh yang menyerap oksigen dan melepas karbon, tapi juga insan—makhluk sadar, pengemban amanah, dan pencari makna. Dan dalam keinsanannya itulah manusia layak mendapat petunjuk, bukan hanya dari mikroskop, tetapi dari langit.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)