Mimpi Buruk sang Raja: Usir Abu Nawas!
Miftah yusufpati
Rabu, 06 Agustus 2025 - 16:00 WIB
Inilah kekuatan kisah Abu Nawashumor yang cerdas, penuh pesan moral, dan tetap relevan hingga kini. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Baginda Harun Al Rasyid tampak gelisah pagi itu. Wajahnya kusut seperti seprai belum disetrika. Ia baru saja terbangun dari tidur yang penuh teror. Bukan karena kudeta, bukan pula karena invasi musuh, melainkan... mimpi buruk. Mimpi itu begitu nyata. Seorang lelaki tua berjubah putih muncul sambil menunjuk-nunjuk: "Usirlah Abu Nawas dari negeri ini, kalau tidak, celaka akan menimpa Baghdad!"
Tanpa pikir panjang (dan tanpa konfirmasi ulama tafsir mimpi), sang raja langsung mengeluarkan titah: “Abu Nawas harus diusir! Tapi dia hanya boleh meninggalkan negeri ini dengan syarat: tidak boleh berjalan kaki, tidak boleh berlari, tidak merangkak, tidak melompat, tidak naik keledai atau binatang tunggangan lainnya!”
Syarat yang lebih cocok ditulis di buku teka-teki anak-anak itu segera sampai ke telinga Abu Nawas. Ia tak bisa berbuat banyak. Meski merasa tak bersalah, ia memilih angkat kaki demi menghindari keributan. Dielusnya kepala istri tercinta yang menangis tersedu, lalu ia pun berangkat dengan keledai. Ya, itu masih diperbolehkan untuk pergi.
Hari demi hari berlalu, bekalnya menipis, dan rasa rindunya terhadap Baghdad makin menyesakkan dada. Tapi akal Abu Nawas tak ikut terusir. Ia tahu, kalau pulang, tetap harus menaati syarat yang sama. Maka ia berpikir keras hingga hampir menggigit langit-langit mulutnya sendiri.
Baca juga: Strategi Sempit ala Abu Nawas
Akhirnya, pada hari kesembilanbelas pengasingan, ia mendapat ilham: bergantung di bawah perut keledai! Ia tidak berjalan, tidak naik, tidak menunggang, tidak merangkak, tidak melompat. Ia menggantung seperti buah kelapa tergantung di pelepah.
Penduduk Baghdad geger. Abu Nawas pulang! Rakyat bersorak, tapi sang raja malah tersenyum sinis: “Kali ini tak bisa lolos! Aku akan hukum dia!”
Tanpa pikir panjang (dan tanpa konfirmasi ulama tafsir mimpi), sang raja langsung mengeluarkan titah: “Abu Nawas harus diusir! Tapi dia hanya boleh meninggalkan negeri ini dengan syarat: tidak boleh berjalan kaki, tidak boleh berlari, tidak merangkak, tidak melompat, tidak naik keledai atau binatang tunggangan lainnya!”
Syarat yang lebih cocok ditulis di buku teka-teki anak-anak itu segera sampai ke telinga Abu Nawas. Ia tak bisa berbuat banyak. Meski merasa tak bersalah, ia memilih angkat kaki demi menghindari keributan. Dielusnya kepala istri tercinta yang menangis tersedu, lalu ia pun berangkat dengan keledai. Ya, itu masih diperbolehkan untuk pergi.
Hari demi hari berlalu, bekalnya menipis, dan rasa rindunya terhadap Baghdad makin menyesakkan dada. Tapi akal Abu Nawas tak ikut terusir. Ia tahu, kalau pulang, tetap harus menaati syarat yang sama. Maka ia berpikir keras hingga hampir menggigit langit-langit mulutnya sendiri.
Baca juga: Strategi Sempit ala Abu Nawas
Akhirnya, pada hari kesembilanbelas pengasingan, ia mendapat ilham: bergantung di bawah perut keledai! Ia tidak berjalan, tidak naik, tidak menunggang, tidak merangkak, tidak melompat. Ia menggantung seperti buah kelapa tergantung di pelepah.
Penduduk Baghdad geger. Abu Nawas pulang! Rakyat bersorak, tapi sang raja malah tersenyum sinis: “Kali ini tak bisa lolos! Aku akan hukum dia!”