Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Mimpi Buruk sang Raja: Usir Abu Nawas!

miftah yusufpati Rabu, 06 Agustus 2025 - 16:00 WIB
Mimpi Buruk sang Raja: Usir Abu Nawas!
Inilah kekuatan kisah Abu Nawashumor yang cerdas, penuh pesan moral, dan tetap relevan hingga kini. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Baginda Harun Al Rasyid tampak gelisah pagi itu. Wajahnya kusut seperti seprai belum disetrika. Ia baru saja terbangun dari tidur yang penuh teror. Bukan karena kudeta, bukan pula karena invasi musuh, melainkan... mimpi buruk. Mimpi itu begitu nyata. Seorang lelaki tua berjubah putih muncul sambil menunjuk-nunjuk: "Usirlah Abu Nawas dari negeri ini, kalau tidak, celaka akan menimpa Baghdad!"

Tanpa pikir panjang (dan tanpa konfirmasi ulama tafsir mimpi), sang raja langsung mengeluarkan titah: “Abu Nawas harus diusir! Tapi dia hanya boleh meninggalkan negeri ini dengan syarat: tidak boleh berjalan kaki, tidak boleh berlari, tidak merangkak, tidak melompat, tidak naik keledai atau binatang tunggangan lainnya!”

Syarat yang lebih cocok ditulis di buku teka-teki anak-anak itu segera sampai ke telinga Abu Nawas. Ia tak bisa berbuat banyak. Meski merasa tak bersalah, ia memilih angkat kaki demi menghindari keributan. Dielusnya kepala istri tercinta yang menangis tersedu, lalu ia pun berangkat dengan keledai. Ya, itu masih diperbolehkan untuk pergi.

Hari demi hari berlalu, bekalnya menipis, dan rasa rindunya terhadap Baghdad makin menyesakkan dada. Tapi akal Abu Nawas tak ikut terusir. Ia tahu, kalau pulang, tetap harus menaati syarat yang sama. Maka ia berpikir keras hingga hampir menggigit langit-langit mulutnya sendiri.

Baca juga: Strategi Sempit ala Abu Nawas

Akhirnya, pada hari kesembilanbelas pengasingan, ia mendapat ilham: bergantung di bawah perut keledai! Ia tidak berjalan, tidak naik, tidak menunggang, tidak merangkak, tidak melompat. Ia menggantung seperti buah kelapa tergantung di pelepah.

Penduduk Baghdad geger. Abu Nawas pulang! Rakyat bersorak, tapi sang raja malah tersenyum sinis: “Kali ini tak bisa lolos! Aku akan hukum dia!”

Namun senyum itu menguap begitu melihat bagaimana Abu Nawas datang—bukan duduk di atas keledai, tapi bergelayut seperti kelelawar, menggantung manis di bawah perut keledai. Raja bengong. Para menteri saling pandang. Para penjaga pura-pura batuk menahan tawa.

“Dia tidak menunggang keledai,” gumam perdana menteri sambil menyeka air mata haru—atau tawa, entahlah.

Baginda pun tak bisa berkata-kata. Abu Nawas kembali bebas, dengan satu kemenangan lagi dalam sejarah kelicinan yang menghibur.

Baca juga: Abu Nawas Menggunakan Ilmu Mati Sementara untuk Mendapat Maaf Baginda

Hikmah dari Kisah Ini:

1. Kecerdasan Mengatasi Ketidakadilan

Abu Nawas menunjukkan bahwa akal sehat dan kecerdasan bisa menjadi senjata melawan ketidakadilan, bahkan yang bersumber dari kekuasaan. Ia tidak melawan dengan kekerasan, melainkan dengan berpikir kreatif.

2. Menghadapi Ujian dengan Optimisme

Meski terusir tanpa kesalahan, Abu Nawas tetap bersikap sabar dan penuh harap kepada pertolongan Allah. Ini menggambarkan pentingnya tawakal dan keyakinan saat menghadapi ujian hidup.

3. Kekuatan Rakyat Jelata

Rakyat lebih mencintai Abu Nawas ketimbang rajanya sendiri. Ini menggambarkan bahwa kejujuran, kecerdasan, dan kebaikan hati lebih dihargai oleh masyarakat ketimbang kekuasaan semata.

4. Hati-hati Menafsirkan Mimpi

Kisah ini juga secara satir menyindir pemimpin yang mudah dipengaruhi oleh mimpi atau bisikan gaib dalam membuat keputusan penting. Ia menjadi pelajaran bahwa kebijakan harus berdasarkan akal sehat dan keadilan, bukan hal-hal tak rasional.

Baca juga: Bukan Sekadar Lelucon: Abu Nawas Menjual Rajanya Agar Kekuasaan Tak Buta Nurani

5. Jalan Keluar Selalu Ada

Dalam situasi tersulit, seperti larangan yang tampak mustahil untuk dilanggar, akan selalu ada celah solusi jika kita mau berpikir kreatif dan tidak menyerah.

Inilah kekuatan kisah Abu Nawas—humor yang cerdas, penuh pesan moral, dan tetap relevan hingga kini.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)