LANGIT7.ID-Sudah beberapa minggu
Abu Nawas tak terlihat batang hidungnya. Tak di kedai teh, tak pula di istana. Suasana Baghdad terasa kehilangan warna, karena di mana tak ada Abu Nawas, di situlah tawa ikut lenyap.
Para sahabatnya di kedai teh mulai resah. “Kedai ini jadi sepi tanpa dia. Tak ada yang bisa bikin tawa meledak seperti Abu Nawas,” keluh salah satu dari mereka.
Suatu sore, seorang laki-laki setengah baya masuk ke kedai. Wajahnya kusut seperti kain habis dijemur di musim dingin.
“Maaf,” katanya. “Apakah kalian tahu di mana aku bisa menemukan Abu Nawas?”
“Kenapa engkau mencarinya?” tanya seorang sahabat Abu Nawas.
“Aku punya masalah pelik. Rumahku sempit, tapi aku tinggal bersama istriku dan delapan anakku. Rasanya seperti tinggal di dalam kantong sempit berisi semangka dan ayam goreng. Kami semua tertekan, tidak bahagia…”
Baca juga: Abu Nawas Menggunakan Ilmu Mati Sementara untuk Mendapat Maaf Baginda Teman-teman Abu Nawas pun saling pandang. Masalah ini terlalu serius buat mereka yang cuma jago main dam dan minum teh.
“Pergilah ke rumah Abu Nawas. Hanya dia yang bisa memberimu solusi... walau kadang solusinya tidak bisa ditebak."
---
Orang itu pun datang ke rumah Abu Nawas, yang kala itu sedang mengaji. Setelah mendengar keluh kesahnya, Abu Nawas bertanya, “Apakah kau punya seekor domba?”
“Tidak, tapi aku bisa membelinya.”
“Kalau begitu, belilah seekor domba dan tempatkan di dalam rumahmu,” ujar Abu Nawas tenang.
Orang itu bengong. Tapi ia tak membantah.
Baca juga: Bukan Sekadar Lelucon: Abu Nawas Menjual Rajanya Agar Kekuasaan Tak Buta Nurani ---
Beberapa hari kemudian, ia datang lagi. “Wahai Abu Nawas! Rumahku kini makin sempit. Domba itu merebut tempat tidur anak bungsuku! Bahkan dia suka mengembik tiap azan!”
“Kalau begitu,” kata Abu Nawas tenang, “belilah beberapa ekor unggas, dan peliharalah juga di dalam rumahmu.”
“Apa?!” Tapi ia tetap menurut.
---
Beberapa hari kemudian, ia datang lagi dengan wajah seperti tumpukan cucian kotor.
“Abu Nawas... ayam-ayam itu naik ke meja makan, bertelur di seprai, dan kini rumahku bukan lagi rumah, tapi kebun binatang mini!”
“Kalau begitu,” ujar Abu Nawas sambil mengangguk bijak, “belilah seekor anak unta, dan peliharalah di rumahmu.”
“Un… ta?”
Ia tetap tidak membantah. (Karena kalau membantah, nanti tak bisa masuk cerita.)
---
Seminggu kemudian, orang itu datang lagi. Rambutnya acak-acakan, bajunya belepotan, dan matanya berkedut seperti pintu yang engselnya karatan.
“Abu Nawas, rumahku sekarang seperti neraka. Anak unta menabrak lemari, ayam naik ke punggung domba, dan domba menatapku seperti aku yang menumpang di rumahnya!”
Baca juga: Kisah Kocak Penuh Hikmah Abu Nawas: Tiga Jawaban, Satu Pertanyaan Abu Nawas mengangguk pelan. “Kalau begitu, juallah anak unta itu.”
Orang itu langsung berlari ke pasar.
---
Beberapa hari kemudian, Abu Nawas datang ke rumahnya.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Lebih baik! Jauh lebih baik!” katanya sambil tersenyum lega. “Tanpa anak unta, rumah terasa lebih manusiawi.”
“Kalau begitu, juallah unggas-unggamu.”
Orang itu langsung menjual ayam-ayamnya (meski salah satunya sempat menghilang ke dapur tetangga).
---
Beberapa hari lagi berlalu, Abu Nawas datang kembali.
“Bagaimana sekarang?”
“Lebih lapang, lebih tenang. Anak-anak bisa bermain tanpa takut menginjak kotoran ayam!”
“Kalau begitu, juallah dombamu.”
Tanpa pikir panjang, domba pun dijual.
Baca juga: Abu Nawas dan Strategi Gelayutan: Mengelabui Mimpi Sang Raja ---
Beberapa hari kemudian, ketika Abu Nawas bertamu lagi, orang itu menyambutnya dengan wajah berbinar.
“Wahai Abu Nawas, sekarang rumah kami terasa luas sekali! Kami semua merasa bahagia dan lega. Terima kasih! Engkau sungguh jenius!”
Abu Nawas tersenyum tenang. “Sebenarnya, wahai sahabat, sempit atau lapang bukan soal ukuran rumah. Itu soal cara pikir. Kalau hatimu penuh syukur, Allah akan lapangkan rumahmu meskipun sempit.”
Orang itu terdiam. Sejenak ia termenung.
“Apakah engkau sering berdoa kepada Tuhan?” tanya Abu Nawas.
“Ya. Setiap malam.”
“Ketahuilah, ketika engkau meminta sesuatu namun tidak mendapatkannya, bisa jadi itu karena Allah ingin memberimu sesuatu yang lebih besar: pemahaman. Sebab pemahaman yang menenangkan lebih bernilai dari pemberian yang mempersempit.”
Dan Abu Nawas pun pamit, meninggalkan rumah itu yang kini lebih lapang... bukan karena dindingnya bergeser, tapi karena hati penghuninya sudah berubah.
Hikmah kisah:Sempit dan lapang itu bukan soal ukuran rumah, melainkan soal kelapangan hati. Ketika syukur telah masuk ke dalam jiwa, maka ruang hidup pun akan terasa lega. Dan terkadang, jalan menuju kelapangan... harus lewat unta di ruang tamu.
1. Kritik Sosial Lewat Humor Cerdas
Abu Nawas menggunakan akalnya untuk menyampaikan kritik terhadap ketidakadilan sosial—dalam hal ini praktik perbudakan—dengan cara yang jenaka namun menggugah. Ia menunjukkan bahwa bahkan seorang raja pun akan menderita jika berada di posisi rakyat yang tertindas.
Baca juga: Saat Raja Memesan Mahkota Surga dan Abu Nawas Menjawab dengan Canda Berhikmah 2. Kebijaksanaan dalam Kemarahan
Meskipun awalnya murka, Sultan Harun Al-Rasyid akhirnya tersentuh dan memaafkan Abu Nawas. Ini menunjukkan bahwa pemimpin yang bijak mampu menahan emosi dan memberikan maaf, terutama kepada rakyatnya yang cerdik tapi tidak berniat jahat.
3. Pentingnya Maaf Sebelum Terlambat
Permintaan istri Abu Nawas agar raja memaafkan suaminya “yang telah meninggal” mengajarkan bahwa memberi maaf adalah perbuatan mulia yang sebaiknya tidak ditunda, sebab hidup bisa berubah dalam sekejap.
Baca juga: Abu Nawas dan Bayi yang Diperebutkan: Ketika Keadilan Datang Bersama Tawa 4. Kepintaran Harus Disertai Keberanian
Abu Nawas tidak hanya cerdas, tapi juga berani menanggung risiko dari kelancangannya. Ini mengajarkan bahwa keberanian dan tanggung jawab harus seiring dengan kecerdikan.
5. Satire sebagai Cara Mengungkap Kebenaran
Kisah ini menunjukkan bahwa terkadang kebenaran paling menyentuh justru datang dari cerita yang penuh guyonan. Abu Nawas berhasil membuat raja berpikir dengan caranya yang tak biasa.
(mif)