Selendang yang Membawa Cahaya: Kisah dari Negeri Kufur ke Masjid Nabi
Miftah yusufpati
Jum'at, 08 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Terkadang, kebenaran memang turun dari langit. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di salah satu sudut Masjid Nabawi, pada masa Rasulullah ﷺ masih hidup, pernah tinggal seorang perempuan berkulit hitam. Ia bukan sahabat besar, bukan pula dari kalangan Anshar maupun Muhajirin. Namanya tidak disebut dalam sejarah. Namun kisahnya abadi dalam kitab Shahih Bukhari, dalam hadis nomor 3835, diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiallahu ‘anha.
Perempuan itu, menurut Aisyah, adalah bekas budak milik seorang Arab yang akhirnya memeluk Islam. Ia memiliki sebuah tempat tinggal sederhana, dalam riwayat disebut "hifsy", yaitu gubuk kecil yang berdiri di dekat masjid. Tiap kali datang, ia selalu menyapa Aisyah dan para istri Nabi. Setelah berbincang, ia menutup obrolan dengan bait syair yang sama:
"Hari selendang adalah tanda keajaiban Tuhan kita. Sungguh, dari negeri kufur Dia menyelamatkanku."
Syair itu ia ulang-ulang. Hingga suatu hari, Aisyah penasaran dan bertanya, “Apa maksudmu dengan ‘hari selendang’ itu?”
Lalu mengalirlah kisah getir dari masa lalunya.
Ia bercerita bahwa suatu hari, anak perempuan dari keluarga tuannya pergi membawa selendang kulit, semacam syal berharga yang biasa digunakan wanita Arab kala itu. Tanpa sengaja, selendang itu terjatuh. Seekor burung menyambar dan membawanya terbang, mengira itu adalah daging. Namun malang, sang budak justru dituduh mencurinya.
Baca juga: Kisah Hikmah: Tiga Suara Bayi dan Seekor Anjing
Perempuan itu, menurut Aisyah, adalah bekas budak milik seorang Arab yang akhirnya memeluk Islam. Ia memiliki sebuah tempat tinggal sederhana, dalam riwayat disebut "hifsy", yaitu gubuk kecil yang berdiri di dekat masjid. Tiap kali datang, ia selalu menyapa Aisyah dan para istri Nabi. Setelah berbincang, ia menutup obrolan dengan bait syair yang sama:
"Hari selendang adalah tanda keajaiban Tuhan kita. Sungguh, dari negeri kufur Dia menyelamatkanku."
Syair itu ia ulang-ulang. Hingga suatu hari, Aisyah penasaran dan bertanya, “Apa maksudmu dengan ‘hari selendang’ itu?”
Lalu mengalirlah kisah getir dari masa lalunya.
Ia bercerita bahwa suatu hari, anak perempuan dari keluarga tuannya pergi membawa selendang kulit, semacam syal berharga yang biasa digunakan wanita Arab kala itu. Tanpa sengaja, selendang itu terjatuh. Seekor burung menyambar dan membawanya terbang, mengira itu adalah daging. Namun malang, sang budak justru dituduh mencurinya.
Baca juga: Kisah Hikmah: Tiga Suara Bayi dan Seekor Anjing