Tasawuf: Jejak Asketisme, Lintas Perdebatan, dan Bayang-Bayang Asing di Tubuh Islam
Miftah yusufpati
Rabu, 13 Agustus 2025 - 05:15 WIB
tasawuf sebagai istilah dan sistem bukan warisan langsung Nabi atau sahabat. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah riuh perdebatan warisan intelektual Islam, satu kata ini tetap memantik silang pendapat: tasawuf. Benarkah ia diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Atau hanya kebiasaan saleh para sahabat yang kemudian diberi nama? Atau justru, seperti dugaan sebagian peneliti, ajaran asing yang menyusup ke tubuh Islam di masa-masa belakangan?
Sejarah mencatat, tak satu pun riwayat sahih—bahkan dha’if—yang menyinggung kata “tasawuf” atau “sufi” di masa Nabi. Secara etimologis pun, ulama berselisih soal akar katanya. “Tidak ada akar kata yang jelas dalam bahasa Arab,” tulis Dr. Fahd bin Sulaiman al-Fuhaid dalam Nasy’atu Bida’i ash-Shufiyah (2012). Ini, kata dia, indikasi awal bahwa istilah itu lahir jauh sesudah masa sahabat.
Menurut kajian sejarah, benih tasawuf muncul di zaman Tâbi‘in, generasi setelah sahabat. Tanpa nama atau jargon mistik, mereka dikenal sebagai nussâk (ahli ibadah) dan zuhhâd (asketik). Irak, terutama Kufah dan Bashrah, menjadi pusatnya. “Sikap mereka berlebihan dalam mengekang diri,” tulis Dr. Fahd, “dan menambah-nambahkan yang tak ada pada sahabat.”
Satu kisah di Thabaqat Ibni Sa‘d (V/135) menggambarkan gejala ini. Bard, bekas budak Sa‘id bin al-Musayyib, bercerita melihat seseorang salat Zuhur lalu berdiri tegak hingga masuk waktu Asar. “Itu bukan ibadah,” tegur Sa‘id. “Ibadah adalah menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.”
Baca juga: Tasawuf Menurut Syaikh Al-Qardhawi: Jejak Sunyi Menuju Cahaya
Nama yang Mengemuka
Awal abad ke-2 Hijriyah, istilah sufi mulai terdengar. Ada yang menunjuk Abu Hâsyim al-Kûfi (wafat 150/162 H) sebagai pelopornya. Muhammad bin Ahmad al-Malthi asy-Syafi‘i, dalam at-Tanbîh wa ar-Radd, menyebut nama lain: Abdak (wafat 210 H), pemimpin firqah al-‘Abdakiyah yang mengharamkan dunia tanpa imam adil. Ibnu an-Nadim dalam al-Fahras bahkan menuding Jâbir bin Hayyan, murid Ja‘far ash-Shadiq dan penganut Syiah, sebagai orang pertama yang menyebut dirinya sufi.
Sejarah mencatat, tak satu pun riwayat sahih—bahkan dha’if—yang menyinggung kata “tasawuf” atau “sufi” di masa Nabi. Secara etimologis pun, ulama berselisih soal akar katanya. “Tidak ada akar kata yang jelas dalam bahasa Arab,” tulis Dr. Fahd bin Sulaiman al-Fuhaid dalam Nasy’atu Bida’i ash-Shufiyah (2012). Ini, kata dia, indikasi awal bahwa istilah itu lahir jauh sesudah masa sahabat.
Menurut kajian sejarah, benih tasawuf muncul di zaman Tâbi‘in, generasi setelah sahabat. Tanpa nama atau jargon mistik, mereka dikenal sebagai nussâk (ahli ibadah) dan zuhhâd (asketik). Irak, terutama Kufah dan Bashrah, menjadi pusatnya. “Sikap mereka berlebihan dalam mengekang diri,” tulis Dr. Fahd, “dan menambah-nambahkan yang tak ada pada sahabat.”
Satu kisah di Thabaqat Ibni Sa‘d (V/135) menggambarkan gejala ini. Bard, bekas budak Sa‘id bin al-Musayyib, bercerita melihat seseorang salat Zuhur lalu berdiri tegak hingga masuk waktu Asar. “Itu bukan ibadah,” tegur Sa‘id. “Ibadah adalah menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.”
Baca juga: Tasawuf Menurut Syaikh Al-Qardhawi: Jejak Sunyi Menuju Cahaya
Nama yang Mengemuka
Awal abad ke-2 Hijriyah, istilah sufi mulai terdengar. Ada yang menunjuk Abu Hâsyim al-Kûfi (wafat 150/162 H) sebagai pelopornya. Muhammad bin Ahmad al-Malthi asy-Syafi‘i, dalam at-Tanbîh wa ar-Radd, menyebut nama lain: Abdak (wafat 210 H), pemimpin firqah al-‘Abdakiyah yang mengharamkan dunia tanpa imam adil. Ibnu an-Nadim dalam al-Fahras bahkan menuding Jâbir bin Hayyan, murid Ja‘far ash-Shadiq dan penganut Syiah, sebagai orang pertama yang menyebut dirinya sufi.