home masjid

Kisah Abu Nawas tentang Kentang, Kepal, dan Kepala

Jum'at, 15 Agustus 2025 - 16:00 WIB
Di tengah kerasnya dunia, terkadang senyuman dan kecerdikan lebih ampuh daripada kemarahan dan kekerasan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Musim tanam kentang tiba, dan Abu Nawas seperti biasa, sibuk mencangkul ladangnya sendiri. Tapi belum sempat benih kentang itu bersua tanah, sepatu prajurit sudah menginjak bibir ladang. Tanpa salam, tanpa basa-basi, Abu Nawas langsung diseret. Tuduhannya? Hampir membunuh Baginda.

“Ia mencampur bubuk merica dalam kue istana!” begitu kabar beredar. Padahal yang dikeluhkan Baginda hanya bersin tujuh kali berturut-turut. Tapi namanya raja, kalau bersin tujuh kali, bisa dianggap tujuh kali nyawa melayang. Maka melayang pula nasib Abu Nawas.

Di penjara, Abu Nawas meringkuk. Tapi ladang tak bisa menunggu. Kentang bisa mogok tumbuh jika tidak dicangkul. Istrinya sudah renta. Tetangga? Mereka sibuk dengan urusan jagung dan kacangnya masing-masing.

Di sinilah Abu Nawas memutar otak. Ia memanggil penjaga penjara dan minta selembar kertas dan pensil. Permintaannya segera sampai ke telinga Baginda yang penasaran: “Aha! Surat rahasia! Barangkali pengakuan!”

Tentu saja surat itu dibaca diam-diam. Isinya: "Wahai istriku, jangan kau cangkul ladang kita. Di sana kusimpan harta karun dan senjata. Jangan beri tahu siapa pun."

Baca juga: Bubur Haris dan Tipu Muslihat Abu Nawas

Baginda, dengan mata melotot karena rakus, langsung memerintahkan penggalian besar-besaran. Seluruh ladang Abu Nawas dikuliti tanpa sisa oleh para pekerja istana. Tidak ditemukan apa-apa, kecuali cacing bingung dan satu dua batu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya