Hadis Riwayat Al-Hakim dan Saat Indonesia Kehilangan H Agus Salim
Miftah yusufpati
Jum'at, 15 Agustus 2025 - 16:30 WIB
Haji Agus Salim dan Sukarno. Foto: Ist
LANGIT7.ID-"Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, dialah orang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, dialah orang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, dialah orang celaka." — (HR. Al-Hakim)
New York, 1947. Aula megah markas Perserikatan Bangsa-Bangsa bergema oleh suara seorang lelaki tua berpeci. Haji Agus Salim. Diplomat ulung. Pendiri bangsa. Sorot matanya tajam, kata-katanya mengalir dalam bahasa Inggris yang fasih. Lalu, seakan ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan tak bisa dibatasi satu bahasa saja, ia beralih ke Prancis. Kemudian Arab. Para delegasi dunia tertegun.
“Indonesia tidak meminta belas kasihan. Indonesia menuntut haknya sebagai bangsa merdeka,” ujarnya, tanpa teks di tangan, tanpa ragu di suara.
Bayangkan. Negeri yang bahkan belum genap dua tahun merdeka, masih berdarah melawan Belanda, mengirim utusan yang berdiri sejajar dengan para negarawan dunia. Ia bukan sekadar berbicara—ia memaksa dunia mendengar.
Baca juga: Rrefleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (11): Bangun Fasilitas Olahraga dan Karakter Sejak Dini, Kunci Lahirkan Generasi Juara
Menurut catatan Rosihan Anwar dalam "Haji Agus Salim: Diplomat Ulung Pendiri Bangsa" (Kompas, 2011), Salim menguasai sembilan bahasa: Arab, Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Turki, Jepang, Latin, dan sedikit Mandarin. Semuanya dipelajari otodidak. Tidak ada Harvard. Tidak ada Oxford. Tidak ada beasiswa ke universitas ternama. Hanya rasa ingin tahu, disiplin keras, dan kegigihan nyaris fanatik.
Sekarang, tujuh dekade kemudian, pertanyaan itu menyergap kita: di mana sosok seperti itu? Masihkah ada pemimpin yang berani berdiri di forum dunia, berbicara tanpa teks, menguasai bahasa internasional, dan membuat lawan bicara terdiam bukan karena sopan santun diplomasi, melainkan karena kekuatan logika dan argumentasi?
New York, 1947. Aula megah markas Perserikatan Bangsa-Bangsa bergema oleh suara seorang lelaki tua berpeci. Haji Agus Salim. Diplomat ulung. Pendiri bangsa. Sorot matanya tajam, kata-katanya mengalir dalam bahasa Inggris yang fasih. Lalu, seakan ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan tak bisa dibatasi satu bahasa saja, ia beralih ke Prancis. Kemudian Arab. Para delegasi dunia tertegun.
“Indonesia tidak meminta belas kasihan. Indonesia menuntut haknya sebagai bangsa merdeka,” ujarnya, tanpa teks di tangan, tanpa ragu di suara.
Bayangkan. Negeri yang bahkan belum genap dua tahun merdeka, masih berdarah melawan Belanda, mengirim utusan yang berdiri sejajar dengan para negarawan dunia. Ia bukan sekadar berbicara—ia memaksa dunia mendengar.
Baca juga: Rrefleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (11): Bangun Fasilitas Olahraga dan Karakter Sejak Dini, Kunci Lahirkan Generasi Juara
Menurut catatan Rosihan Anwar dalam "Haji Agus Salim: Diplomat Ulung Pendiri Bangsa" (Kompas, 2011), Salim menguasai sembilan bahasa: Arab, Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Turki, Jepang, Latin, dan sedikit Mandarin. Semuanya dipelajari otodidak. Tidak ada Harvard. Tidak ada Oxford. Tidak ada beasiswa ke universitas ternama. Hanya rasa ingin tahu, disiplin keras, dan kegigihan nyaris fanatik.
Sekarang, tujuh dekade kemudian, pertanyaan itu menyergap kita: di mana sosok seperti itu? Masihkah ada pemimpin yang berani berdiri di forum dunia, berbicara tanpa teks, menguasai bahasa internasional, dan membuat lawan bicara terdiam bukan karena sopan santun diplomasi, melainkan karena kekuatan logika dan argumentasi?