LANGIT7.ID-Jakarta; President Australian National Imams Council (ANIC), Sheikh Shady Al Suleiman, mengapresiasi kerukunan dan kedamaian umat beragama di Indonesia. Sheikh Shady menyebut Indonesia sebagai contoh terbaik dalam hidup berdampingan dengan harmoni.
Hal ini disampaikan Sheikh Shady saat bertemu Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta. Dua tokoh ini mendiskusikan penguatan dialog antarumat beragama, pengembangan pendidikan Islam, serta pengalaman kedua negara dalam membangun masyarakat yang harmonis. Dibahas juga peluang kolaborasi Indonesia dan Australia di bidang keagamaan dan kehidupan keberagamaan.
"Kami percaya dialog adalah jalan terbaik. Kami percaya pentingnya membangun komunikasi dan saling memahami. Kami juga meyakini bahwa semua orang harus dapat hidup berdampingan dalam harmoni, saling menghormati, dan damai. Indonesia merupakan contoh yang sangat baik dalam hal ini," ujar Sheikh Shady di Jakarta, dikutip Jumat (17/7/2026).
Hadir, Wakil Duta Besar Australia Gita Kamath. Ikut mendampingi Wamenag, Staf Khusus Menag Gayatri, Sekretaris Itjen Kemenag Khairul Huda Basyir, Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Prof. Arskal Salim, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Adib Abdusshomad, dan Tenaga Ahli Menteri Agama Junisab Akbar.
Sheikh Shady mengatakan, dialog merupakan cara terbaik untuk menghilangkan kebencian terhadap agama maupun kelompok mana pun. Dia lalu menjelaskan berbagai upaya yang dilakukan Australia dalam mendukung kehidupan umat Islam.
Menurutnya, pemerintah Australia memberikan dukungan terhadap berbagai program penguatan kehidupan beragama, termasuk pembentukan lembaga penanggulangan Islamofobia, bantuan bagi masjid, serta pembangunan universitas Islam untuk menyiapkan imam, khatib, dan dai yang memahami konteks masyarakat Australia.
Wamenag menegaskan dialog menjadi pendekatan yang paling tepat dalam membangun hubungan antarumat beragama. Ia mengajak semua pihak mengedepankan komunikasi dan saling memahami dalam menyikapi perbedaan.
"Saya menolak istilah bagaimana kita memerangi Islamofobia. Yang penting adalah masing-masing bisa mengamalkan agamanya sampai pada satu titik bisa membangun harmoni di tengah perbedaan," tegasnya.
Romo Muhammad Syafii menyatakan Kementerian Agama menyambut baik penguatan kolaborasi kedua negara. Menurutnya, Indonesia dan Australia dapat saling berbagi pengalaman dalam membangun kehidupan beragama yang damai dan harmonis.
"Kami harap setelah kita melakukan perjumpaan seperti ini, kita akan dapat memperkuat kolaborasi kita, makin menguatkan hubungan antarbangsa ini dan juga saling memberikan masukan terhadap kehidupan umat Islam, khususnya yang ada di Australia," ujar Wamenag.
Sebagai kontribusi Indonesia dalam kerja sama tersebut, Wamenag memperkenalkan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) di Depok yang menjadi tempat belajar mahasiswa dari sekitar 70 negara. Menurutnya, banyak mahasiswa internasional mengaku merasakan kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia meski mayoritas penduduknya beragama Islam.
"Karena itu, kami mengundang mahasiswa-mahasiswa Australia untuk bisa belajar di UIII agar bersama-sama dengan mahasiswa dari berbagai negara dapat merasakan bagaimana harmoni kehidupan agama yang berbeda di Indonesia," katanya. (Kemenag/bil)
(lam)