Sufi Asli dan Palsu: Kontroversi Jalan Menuju Tuhan
Miftah yusufpati
Rabu, 20 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Sufisme tidak bisa dipaku pada satu definisi. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di sebuah ruang doa di Konya, Turki, para darwis berputar dalam lingkaran tak berujung. Bagi sebagian penonton Barat, pemandangan itu dianggap sebagai inti Sufisme—sebuah tarian mistik menuju ekstasi spiritual. Namun, seperti diingatkan penulis dan pengkaji Sufisme, Idries Shah, anggapan itu hanyalah sepotong kecil dari warisan panjang yang jauh lebih kompleks.
“Problem serius adalah menempatkan gagasan dan praktik Sufi secara murni,” tulis Shah dalam The Way of the Sufi (Risalah Gusti, 1999). Kesulitan itu muncul karena Sufisme bukan hanya satu hal: ia dituduh sebagai aliran filsafat, sekte rahasia, ilmu gaib, bahkan sistem keksatriaan. Tetapi semua kategori itu gagal menjelaskan hakikat terdalamnya.
Sejak abad pertengahan, Sufi telah merambah bidang filsafat, sastra, hingga psikologi. Tokoh-tokoh seperti Jalaluddin Rumi, al-Ghazali, Hakim Sanai, hingga Ibnu Arabi mengartikulasikan pandangan yang, menurut Shah, “lebih maju dari zamannya.” Mereka bicara tentang dimensi kesadaran manusia, proses evolusi, bahkan “dimensi keempat” yang baru mendapat pijakan ilmiah berabad-abad kemudian.
Baca juga: Tasawuf: Jejak Asketisme, Lintas Perdebatan, dan Bayang-Bayang Asing di Tubuh Islam
Namun di abad ke-20, warisan itu sering dipelintir. Di Eropa dan Amerika, ribuan orang meniru “tarian darwis” tanpa memahami konteks bahwa Rumi menentukannya khusus untuk masyarakat Asia Kecil abad ke-13. Gerakan seperti Subud juga menyerap metode Naqsyabandiyah-Qadiriyah, tetapi dalam bentuk yang “sudah terbalik,” kata Shah. Para pengikutnya mengejar ekstasi subjektif, sementara Sufi sejati justru menilai tahap itu hanya pintu awal menuju tingkat berikutnya.
Dengan demikian, sebagian besar apa yang populer di Barat bukanlah Sufisme, melainkan “refleksi yang terdistorsi.”
Antara Ilmu dan Okultisme
“Problem serius adalah menempatkan gagasan dan praktik Sufi secara murni,” tulis Shah dalam The Way of the Sufi (Risalah Gusti, 1999). Kesulitan itu muncul karena Sufisme bukan hanya satu hal: ia dituduh sebagai aliran filsafat, sekte rahasia, ilmu gaib, bahkan sistem keksatriaan. Tetapi semua kategori itu gagal menjelaskan hakikat terdalamnya.
Sejak abad pertengahan, Sufi telah merambah bidang filsafat, sastra, hingga psikologi. Tokoh-tokoh seperti Jalaluddin Rumi, al-Ghazali, Hakim Sanai, hingga Ibnu Arabi mengartikulasikan pandangan yang, menurut Shah, “lebih maju dari zamannya.” Mereka bicara tentang dimensi kesadaran manusia, proses evolusi, bahkan “dimensi keempat” yang baru mendapat pijakan ilmiah berabad-abad kemudian.
Baca juga: Tasawuf: Jejak Asketisme, Lintas Perdebatan, dan Bayang-Bayang Asing di Tubuh Islam
Namun di abad ke-20, warisan itu sering dipelintir. Di Eropa dan Amerika, ribuan orang meniru “tarian darwis” tanpa memahami konteks bahwa Rumi menentukannya khusus untuk masyarakat Asia Kecil abad ke-13. Gerakan seperti Subud juga menyerap metode Naqsyabandiyah-Qadiriyah, tetapi dalam bentuk yang “sudah terbalik,” kata Shah. Para pengikutnya mengejar ekstasi subjektif, sementara Sufi sejati justru menilai tahap itu hanya pintu awal menuju tingkat berikutnya.
Dengan demikian, sebagian besar apa yang populer di Barat bukanlah Sufisme, melainkan “refleksi yang terdistorsi.”
Antara Ilmu dan Okultisme