home masjid

Bahaya Mengaitkan Ayat dengan Penemuan Modern: Peringatan Al-‘Utsaimin

Rabu, 20 Agustus 2025 - 16:30 WIB
Al-Quran adalah kitab petunjuk, bukan ensiklopedia teori yang berubah-ubah. Foto: Ist
LANGIT7.ID- Ketika manusia pertama kali mendarat di bulan pada Juli 1969, sebagian cendekiawan Muslim tergoda untuk mencari legitimasi dari kitab suci. Ayat dalam Surah Ar-Rahman: “Wahai kelompok jin dan manusia, apabila kalian mampu menembus penjuru langit dan bumi maka tembuslah, kalian tidak akan bisa menembusnya kecuali dengan sulthan” (QS. Ar-Rahman: 33), langsung diseret untuk menjelaskan peristiwa monumental itu. Kata sulthan ditafsirkan sebagai “ilmu pengetahuan”. Maka pendaratan Apollo 11 di permukaan bulan dianggap bukti nyata keunggulan manusia lewat sains sebagaimana diramalkan Al-Qur’an.

Namun, ulama besar Saudi abad ke-20, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (1929–2001), dengan tegas mengingatkan bahaya cara pandang itu. Dalam kitabnya Kitaabul ‘Ilmi (edisi Indonesia: Panduan Lengkap Menuntut Ilmu, Pustaka Ibnu Katsir), ia menyebut menafsirkan Al-Qur’an dengan teori ilmiah modern sebagai “permainan berisiko”.

“Jika kita menafsirkan Al-Qur’an dengan teori tertentu, lalu teori itu terbantahkan, maka musuh-musuh Islam akan menuduh Al-Qur’an tidak benar,” tulis Al-‘Utsaimin. “Padahal yang salah bukan Al-Qur’an, melainkan orang yang memaksakan tafsirnya.”

Baca juga: Tafsir Al-Quran: Pengaruh Perubahan Sosial, Ilmu Pengetahuan dan Bahasa

Tafsir dan Persaksian yang Berbahaya

Menurut Al-‘Utsaimin, ada persoalan epistemologis yang serius. Menafsirkan ayat dengan teori modern sama saja mengklaim bahwa Allah memang menghendaki makna sebagaimana teori itu. “Ini persaksian besar,” katanya, “dan engkau akan ditanya tentang hal ini.”

Contoh paling gamblang adalah tafsir yang menghubungkan pendaratan manusia di bulan dengan ayat “Jika kalian mampu menembus penjuru langit dan bumi maka tembuslah” (QS. Ar-Rahman: 33). Bagi Al-‘Utsaimin, penafsiran itu cacat. Pertama, karena mendarat di bulan bukan berarti menembus langit. Kedua, ayat itu berbicara tentang hari kiamat, bukan tentang eksplorasi ruang angkasa.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya