LANGIT7.ID- Ketika manusia pertama kali mendarat di bulan pada Juli 1969, sebagian cendekiawan Muslim tergoda untuk mencari legitimasi dari
kitab suci. Ayat dalam Surah Ar-Rahman: “
Wahai kelompok jin dan manusia, apabila kalian mampu menembus penjuru langit dan bumi maka tembuslah, kalian tidak akan bisa menembusnya kecuali dengan sulthan” (QS. Ar-Rahman: 33), langsung diseret untuk menjelaskan peristiwa monumental itu. Kata
sulthan ditafsirkan sebagai “ilmu pengetahuan”. Maka pendaratan Apollo 11 di permukaan bulan dianggap bukti nyata keunggulan manusia lewat sains sebagaimana diramalkan Al-Qur’an.
Namun, ulama besar Saudi abad ke-20,
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (1929–2001), dengan tegas mengingatkan bahaya cara pandang itu. Dalam kitabnya Kitaabul ‘Ilmi (edisi Indonesia: Panduan Lengkap Menuntut Ilmu, Pustaka Ibnu Katsir), ia menyebut menafsirkan Al-Qur’an dengan teori ilmiah modern sebagai “permainan berisiko”.
“Jika kita menafsirkan Al-Qur’an dengan teori tertentu, lalu teori itu terbantahkan, maka musuh-musuh Islam akan menuduh Al-Qur’an tidak benar,” tulis Al-‘Utsaimin. “Padahal yang salah bukan Al-Qur’an, melainkan orang yang memaksakan tafsirnya.”
Baca juga: Tafsir Al-Quran: Pengaruh Perubahan Sosial, Ilmu Pengetahuan dan BahasaTafsir dan Persaksian yang BerbahayaMenurut Al-‘Utsaimin, ada persoalan epistemologis yang serius. Menafsirkan ayat dengan teori modern sama saja mengklaim bahwa Allah memang menghendaki makna sebagaimana teori itu. “Ini persaksian besar,” katanya, “dan engkau akan ditanya tentang hal ini.”
Contoh paling gamblang adalah tafsir yang menghubungkan pendaratan manusia di bulan dengan ayat “Jika kalian mampu menembus penjuru langit dan bumi maka tembuslah” (QS. Ar-Rahman: 33). Bagi Al-‘Utsaimin, penafsiran itu cacat. Pertama, karena mendarat di bulan bukan berarti menembus langit. Kedua, ayat itu berbicara tentang hari kiamat, bukan tentang eksplorasi ruang angkasa.
“Apakah dilepaskan kepada mereka nyala api dan cairan tembaga sebagaimana kelanjutan ayat?” tulisnya retoris. Jawabannya jelas: tidak. Maka, menurutnya, tafsir yang mengaitkan ayat ini dengan pendaratan di bulan adalah batil.
Baca juga: Misteri Roh: Tafsir Quraish Shihab atas Rahasia Kehidupan Tradisi Lama, Godaan BaruPeringatan Al-‘Utsaimin sebetulnya bukan hal baru. Sejak awal abad ke-20, muncul arus tafsir ‘ilmi—tafsir ilmiah—yang dipelopori tokoh Mesir seperti Tantawi Jauhari (w. 1940) lewat karyanya Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. Jauhari menafsirkan Al-Qur’an dengan menyelipkan teori biologi, kimia, hingga astronomi modern. “Al-Qur’an adalah ensiklopedia sains,” katanya dalam muqaddimah kitab itu.
Gagasan ini cepat populer di kalangan modernis, termasuk di Indonesia. Peneliti Al-Qur’an, Howard M. Federspiel, dalam bukunya Popular Indonesian Literature of the Qur’an (Cornell, 1994) mencatat bagaimana tafsir ilmiah dipakai untuk menunjukkan keserasian Islam dengan sains modern. Muhammadiyah, misalnya, mendorong pendekatan ini sebagai cara melawan stigma bahwa Islam ketinggalan zaman.
Namun, di sisi lain, kritik keras datang dari ulama tradisional dan reformis konservatif. Al-‘Utsaimin adalah salah satunya. Baginya, Al-Qur’an turun bukan untuk menjadi buku fisika atau astronomi, melainkan “untuk menerangkan ibadah, akhlak, dan bahan renungan” (QS. Shaad: 29).
Baca juga: Tafsir dan Ambisi: Kontroversi Nama “Ahmad” dalam Gerakan Ahmadiyah Dilema KontemporerKini, di era kecerdasan buatan dan eksplorasi Mars, dilema itu semakin terasa. Sebagian dai dan penulis populer tetap giat mencari “mukjizat sains” dalam Al-Qur’an. Buku The Bible, The Qur’an and Science karya Maurice Bucaille (1976) bahkan menjadi fenomena global, dipuji di kalangan Muslim karena dianggap membuktikan sains modern sudah termaktub dalam wahyu.
Tapi bahaya yang diingatkan Al-‘Utsaimin tetap menghantui. Teori ilmiah, sebagaimana sifatnya, bisa berubah. Big Bang, teori evolusi, atau bahkan model kosmologi multiverse suatu saat bisa direvisi. Jika ayat Al-Qur’an dipaksa sejalan dengan teori-teori itu, lalu teori runtuh, bagaimana nasib otoritas wahyu?
Sejarawan Islam, Fazlur Rahman, dalam Major Themes of the Qur’an (1980) menawarkan jalan tengah: Al-Qur’an tidak bertujuan menjadi buku sains, melainkan memberi dorongan etis dan spiritual untuk mencari ilmu. Ayat-ayat kosmologi adalah “petunjuk arah”, bukan manual laboratorium.
Baca juga: Batas dan Pilihan: Tafsir Maudhu’i atas Takdir Menjaga Kesucian WahyuPada akhirnya, peringatan Al-‘Utsaimin kembali pada prinsip mendasar: menjaga Al-Qur’an dari tafsir serampangan. “Al-Qur’an adalah kitab petunjuk, bukan ensiklopedia teori yang berubah-ubah,” tulisnya.
Debat tafsir ilmiah mungkin tak akan padam. Sebagian melihatnya sebagai bukti kebesaran Islam di mata dunia modern. Sebagian lain, seperti Al-‘Utsaimin, justru melihatnya sebagai jalan pintas yang bisa berbalik menjadi jurang.
Dan umat Islam, kini maupun nanti, akan terus dihadapkan pada pertanyaan yang sama: apakah lebih mulia membuktikan wahyu lewat sains, atau membuktikan sains lewat wahyu?
(mif)