Ketika Masa Lalu Mengetuk Pintu Rumah Tangga: Luka Lama Membuka Lembaran Baru
Miftah yusufpati
Kamis, 21 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Islam mengajarkan: dosa pribadi yang telah disesali dan ditinggalkan, cukup diketahui antara hamba dan Tuhannya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Pada suatu sore di sebuah kafe Jakarta Selatan, seorang perempuan muda, sebut saja Dina, bercerita lirih kepada temannya. Wajahnya diliputi kegelisahan. “Aku sudah dilamar. Tapi aku bingung, apakah aku harus menceritakan masa lalu kelamku?” katanya. Sebuah pertanyaan sederhana, tapi sesungguhnya berat: apakah aib masa silam harus diungkap kepada orang yang hendak membangun rumah tangga dengannya?
Pertanyaan ini bukan hanya problem Dina. Ia mewakili kegelisahan banyak orang yang pernah salah langkah, lalu bertobat, dan kini ingin menapaki hidup baru.
Islam sebenarnya memberikan garis panduan yang jelas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menegaskan:
“Setiap umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang berterus-terang dalam bermaksiat.”
Beliau menggambarkan, ada orang yang berbuat dosa di malam hari, Allah menutupi aibnya, tapi esoknya ia justru menceritakan sendiri perbuatannya kepada orang lain. “Padahal Rabbnya telah menutupi perbuatannya, justru ia malah menyingkap tabir Allah dari dirinya,” sabda Nabi (HR. al-Bukhari dan Muslim, Muttafaqun ‘alaih).
Baca juga: Apakah Allah Taala Menerima Tobat Koruptor saat Sudah Tak Menjabat Lagi?
Hadis lain, yang diriwayatkan al-Baihaqi, menguatkan: “Barang siapa yang melakukan perbuatan nista, hendaknya ia menutupinya dengan tabir Allah. Sebab, bila ia menyingkapkannya, maka hukum Allah akan ditegakkan kepadanya.” (HR. al-Baihaqi, dinilai hasan oleh al-Albani).
Pertanyaan ini bukan hanya problem Dina. Ia mewakili kegelisahan banyak orang yang pernah salah langkah, lalu bertobat, dan kini ingin menapaki hidup baru.
Islam sebenarnya memberikan garis panduan yang jelas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menegaskan:
“Setiap umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang berterus-terang dalam bermaksiat.”
Beliau menggambarkan, ada orang yang berbuat dosa di malam hari, Allah menutupi aibnya, tapi esoknya ia justru menceritakan sendiri perbuatannya kepada orang lain. “Padahal Rabbnya telah menutupi perbuatannya, justru ia malah menyingkap tabir Allah dari dirinya,” sabda Nabi (HR. al-Bukhari dan Muslim, Muttafaqun ‘alaih).
Baca juga: Apakah Allah Taala Menerima Tobat Koruptor saat Sudah Tak Menjabat Lagi?
Hadis lain, yang diriwayatkan al-Baihaqi, menguatkan: “Barang siapa yang melakukan perbuatan nista, hendaknya ia menutupinya dengan tabir Allah. Sebab, bila ia menyingkapkannya, maka hukum Allah akan ditegakkan kepadanya.” (HR. al-Baihaqi, dinilai hasan oleh al-Albani).