home masjid

Sufisme di Era Digital: Jalan Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Modernitas

Jum'at, 22 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Di tengah riuh zaman yang memuja kecepatan dan spiritualitas instan, Sufisme tetap berjalan di jalur sunyi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada abad yang melaju dengan institusionalisasi serba cepat, Sufisme justru berjalan di jalur sunyi, tetap setia pada prinsipnya: kerendahan hati, kesadaran diri, dan bimbingan yang otentik. Namun, dalam dunia yang lapar akan spiritualitas instan, apakah ajaran ini masih relevan?

Idries Shah, dalam karyanya The Way of the Sufi(1999), mengingatkan bahwa Sufisme bukan sekadar jalan menuju ekstasi mistik, melainkan sebuah sistem pemikiran yang terstruktur. “Guru Sufi adalah konduktor, pemimpin, dan pelatih — bukan dewa,” tulis Idries Shah. Pemujaan pribadi, yang hari ini kerap melekat pada figur spiritual, dilarang keras dalam Sufisme. Jalaluddin Rumi bahkan menegaskan: “Janganlah melihat bentuk luarku, tetapi ambil apa yang ada dalam tanganku.”

Namun, tantangan muncul ketika warisan ini diterjemahkan secara salah kaprah. Banyak biografi sufi klasik diserap publik bukan sebagai metafora pembelajaran, melainkan fakta literal. Idries Shah mencontohkan mitos tentang Rumi yang disebut menghabiskan waktu di pemandian Turki. Alih-alih memahami makna simbolik tentang pembersihan jiwa, sebagian pengikut justru menjadikannya praktik fisik.

Baca juga: Ketika Tarekat Menjadi Konten: Nasib Sufi di Era Budaya Cepat Saji

Fenomena ini berakar pada kesalahan mendasar: pendekatan parsial dalam mengkaji Sufisme. “Banyak orang memberontak terhadap diktum bahwa Sufisme harus dipelajari dengan sikap tertentu, di bawah kondisi tertentu, dalam cara tertentu,” kata Idries Shah (1999). Ia menyindir, jika ekonomi saja memerlukan disiplin metodologis, mengapa Sufisme dianggap bebas dari aturan belajar?

Tak heran jika gagasan-gagasan sufi, meminjam analogi Humpty-Dumpty, “telah mengalami suatu kejatuhan besar—ketika dipakai pada tingkat terendah.” Dampaknya: ajaran luhur ini terseret ke ranah komodifikasi spiritual dan sensasi populer.

Padahal, secara historis, pengaruh Sufi melintasi batas mistik. Dari Mogul Dara Shikoh di India yang mencoba mempertemukan Hindu dan Islam, hingga Syamil dari Kaukasus dan Sanusi dari Libya yang memimpin perlawanan terhadap kolonialisme. “Hampir semua literatur Persia klasik adalah Sufistik,” catat Idries Shah, menegaskan peran besar Sufisme dalam membentuk peradaban.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya