LANGIT7.ID-Pada abad yang melaju dengan institusionalisasi serba cepat, Sufisme justru berjalan di jalur sunyi, tetap setia pada prinsipnya: kerendahan hati, kesadaran diri, dan bimbingan yang otentik. Namun, dalam dunia yang lapar akan spiritualitas instan, apakah ajaran ini masih relevan?
Idries Shah, dalam karyanya
The Way of the Sufi (1999), mengingatkan bahwa
Sufisme bukan sekadar jalan menuju ekstasi mistik, melainkan sebuah sistem pemikiran yang terstruktur. “Guru Sufi adalah konduktor, pemimpin, dan pelatih — bukan dewa,” tulis Idries Shah. Pemujaan pribadi, yang hari ini kerap melekat pada figur spiritual, dilarang keras dalam Sufisme. Jalaluddin Rumi bahkan menegaskan: “Janganlah melihat bentuk luarku, tetapi ambil apa yang ada dalam tanganku.”
Namun, tantangan muncul ketika warisan ini diterjemahkan secara salah kaprah. Banyak biografi sufi klasik diserap publik bukan sebagai metafora pembelajaran, melainkan fakta literal. Idries Shah mencontohkan mitos tentang Rumi yang disebut menghabiskan waktu di pemandian Turki. Alih-alih memahami makna simbolik tentang pembersihan jiwa, sebagian pengikut justru menjadikannya praktik fisik.
Baca juga: Ketika Tarekat Menjadi Konten: Nasib Sufi di Era Budaya Cepat Saji Fenomena ini berakar pada kesalahan mendasar: pendekatan parsial dalam mengkaji Sufisme. “Banyak orang memberontak terhadap diktum bahwa Sufisme harus dipelajari dengan sikap tertentu, di bawah kondisi tertentu, dalam cara tertentu,” kata Idries Shah (1999). Ia menyindir, jika ekonomi saja memerlukan disiplin metodologis, mengapa Sufisme dianggap bebas dari aturan belajar?
Tak heran jika gagasan-gagasan sufi, meminjam analogi
Humpty-Dumpty, “telah mengalami suatu kejatuhan besar—ketika dipakai pada tingkat terendah.” Dampaknya: ajaran luhur ini terseret ke ranah komodifikasi spiritual dan sensasi populer.
Padahal, secara historis, pengaruh Sufi melintasi batas mistik. Dari Mogul Dara Shikoh di India yang mencoba mempertemukan Hindu dan Islam, hingga Syamil dari Kaukasus dan Sanusi dari Libya yang memimpin perlawanan terhadap kolonialisme. “Hampir semua literatur Persia klasik adalah Sufistik,” catat Idries Shah, menegaskan peran besar Sufisme dalam membentuk peradaban.
Kini, Sufisme dihadapkan pada tantangan modernitas: bagaimana menjaga esensi sambil tetap relevan? Idries Shah memberikan enam syarat bagi pencari ma'rifat masa kini. Di antaranya: mengakui keterbatasan terjemahan, mencari bimbingan otentik, dan melepaskan prakonsepsi tentang belajar. Tanpa itu, perjalanan spiritual hanyalah wisata batin tanpa arah.
Baca juga: Sufi Asli dan Palsu: Kontroversi Jalan Menuju Tuhan Sebagaimana Ibnu Arabi pernah berkata, “Sufi harus berbicara dalam cara yang mempertimbangkan pengertian, batas-batas, dan prasangka yang menyelimuti pendengarnya.” Sebuah pengingat bahwa jalan sunyi ini bukan untuk romantisme, tetapi untuk transformasi yang memerlukan kesungguhan, bukan sekadar rasa ingin tahu.
(mif)