home masjid

Salaf: Mencari Roh di Balik Puing-Puing Sejarah

Jum'at, 22 Agustus 2025 - 16:00 WIB
Bukan dengan romantisme sejarah, tapi keberanian menafsir ulang teks untuk menjawab realitas. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di jalanan Karachi hingga Kairo, poster bertuliskan “Kembali ke Qur’an dan Sunnah” berkibar. Syariat dijanjikan sebagai obat mujarab bagi krisis moral. Tapi apa yang lahir? Perdebatan panjang celana dan bentuk jenggot. Sementara api yang dulu menggerakkan peradaban—ilmu, keadilan, keterbukaan—kian padam di balik simbolisme.

Hampir satu abad sejak seruan al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah, kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah, menjadi jargon di setiap panggung kebangkitan Islam, hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Di banyak negeri Muslim, proyek kebangkitan yang dijanjikan sering berhenti di tataran slogan dan ritual. Kebangkitan Islam lebih tampak sebagai kosmetika politik dan simbolisme agama ketimbang transformasi substantif.

Padahal, menurut sejarawan Albert Hourani dalam Arabic Thought in the Liberal Age, gagasan kebangkitan muncul di abad ke-19 sebagai respons terhadap hegemoni Barat. Saat itu, pemikir Muslim seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh menyerukan modernisasi Islam yang berpijak pada ijtihad, rasionalitas, dan pembebasan ilmu dari kungkungan taklid. Tapi alih-alih melanjutkan visi ini, sebagian gerakan kontemporer lebih sibuk mengukur panjang celana dan menyoal musik halal-haram.

Baca juga: Menjaga Bara Cinta: Hikmah Samawa dari Sabda Nabi dan Teladan Para Salaf

Simbol Mengalahkan Substansi

Di Timur Tengah, kelompok yang mengklaim diri paling murni dalam meneladani Salaf—generasi tiga abad pertama Islam—justru terjebak pada pengulangan literal. Gerakan Salafi, yang lahir di Najd pada abad ke-18 bersama Muhammad bin Abdul Wahhab, semula dimaksudkan untuk memurnikan tauhid dari praktik bid’ah. Namun, dalam perkembangan mutakhir, pemurnian berubah menjadi puritanisme yang kaku.

Sosiolog Olivier Roy dalam Globalized Islam menyebut fenomena ini sebagai “islamisasi identitas”. Agama direduksi menjadi identitas politik dan penanda visual: cadar, jubah, dan jenggot. Substansi etika sosial—keadilan, pemerataan, kebebasan berpikir—tertutupi oleh ritualisme dan slogan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya