home masjid

Bangsa dalam Al-Qur’an: Antara Qaum, Ummah, dan Sya’b

Jum'at, 29 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Sejarah mencatat bahwa ide kebangsaan mulai dikenal dunia Islam setelah ekspedisi Napoleon ke Mesir pada 1798. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Pada era ketika identitas nasional menjadi perekat politik, sebagian kalangan mencoba mencari legitimasi ideologis dalam teks suci. Nasionalisme yang lahir dari rahim Eropa modern, konon menemukan cerminnya dalam kata-kata Al-Qur’an. Klaim ini terutama merujuk pada banyaknya kata qaum* dalam mushaf yakni sebanyak 322 kali. Namun, apakah fakta linguistik ini cukup untuk menegaskan bahwa Islam mendukung paham kebangsaan?

Secara terminologis, qaumberarti “kelompok manusia yang memiliki keterikatan sosial atau kekerabatan”. Istilah ini digunakan Al-Qur’an dalam konteks yang beragam: dari “qaum Nabi Nuh” (QS 7:59) hingga “qaum yang zalim” (QS 7:103). Dalam analisis Tafsir al-Misbah, Quraish Shihab menegaskan bahwa kata ini lebih bersifat deskriptif ketimbang ideologis. “Ia menunjuk pada kelompok manusia tanpa mengaitkan dengan konsep negara-bangsa,” tulisnya (Shihab, 2002: 157).

Adapun ummah, yang muncul 64 kali, memiliki nuansa yang lebih religius. Al-Qur’an menggunakan istilah ini untuk menandai komunitas yang disatukan oleh iman atau tujuan moral, bukan oleh batas teritorial. Dalam QS Al-Baqarah:143, ummat wasath dipahami sebagai “komunitas moderat” yang mengemban misi keadilan.

Baca juga: Kapan Islam Mengenal Nasionalisme? Dari Napoleon ke Al-Qur’an

Sedangkan kata sya’b(jamak: syu‘ub) hanya muncul sekali, yakni dalam QS Al-Hujurat:13: “Wahai manusia! Sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa (syu‘ub) dan bersuku-suku (qabā’il) agar kamu saling mengenal.”

Ayat ini kerap dijadikan pijakan untuk menjustifikasi nasionalisme. Padahal, sebagaimana diuraikan oleh Fazlur Rahman dalam Islam and Modernity(1982), pesan ayat tersebut bukan glorifikasi identitas etnis atau politik, melainkan pengakuan atas keragaman ciptaan Tuhan. “Nilai moral yang diangkat bukan persaingan identitas, melainkan supremasi takwa sebagai kriteria kemuliaan,” tulis Rahman.

Apakah Al-Qur’an Mendukung Nasionalisme?
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya