home masjid

Muslim China: Masjid Tanpa Kubah, Iman di Balik Tirai Merah

Jum'at, 29 Agustus 2025 - 16:30 WIB
Masjid Raya Xian yang merupakan masjid tertua di Xian, China. Masjid dibangun pada masa Dinasti Tang.(SHUTTERSTOCK)
LANGIT7.ID-Di lorong sempit Kaifeng, masjid tua itu berdiri anggun. Atapnya melengkung, mirip kuil Buddha. Bukan kubah seperti masjid di Timur Tengah. Di dindingnya terukir kaligrafi Arab berdampingan dengan aksara Han. Jejak Islam yang telah mengakar lebih dari seribu tahun.

Michael Dillon dalam China’s Muslim Hui Community: Migration, Settlement and Sects, Routledge (1996) menulis, Islam masuk ke Tiongkok lewat jalur sutra pada abad ke-7, dibawa para pedagang Arab dan Persia. Mereka tidak datang dengan pasukan, tapi dengan barang dagangan dan kitab suci.

“Muslim telah menjadi bagian dari mosaik kebudayaan Tiongkok sejak abad ke-7,” tulis Jonathan N. Lipman dalam Familiar Strangers: A History of Muslims in Northwest China (University of Washington Press, 1997). Namun, sepanjang sejarah, komunitas Muslim selalu berada dalam tarik-menarik antara adaptasi budaya dan tekanan politik.

Baca juga: Masjid Muhammad Ceng Hoo Simbol Keharmonisan Muslim China di Surabaya

Hidup dalam Bayang Sinifikasi

Ketika Dinasti Yuan (1271–1368) memerintah, posisi Muslim cukup terhormat. Banyak yang jadi pejabat, penerjemah, bahkan pengelola pajak. Tetapi, seperti gelombang, keberuntungan itu surut di era Ming.

Dru C. Gladney dalam Muslim Chinese: Ethnic Nationalism in the People's Republic(Harvard University Press, 1996) mencatat, Dinasti Ming memaksa komunitas Muslim untuk meninggalkan bahasa Arab, mengganti nama dengan yang berbau Tionghoa, bahkan mengadopsi pakaian lokal. “Islam di Tiongkok selalu dipaksa berdamai dengan proyek sinifikasi,” tulis Gladney.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya