LANGIT7.ID-Di lorong sempit Kaifeng, masjid tua itu berdiri anggun. Atapnya melengkung, mirip kuil
Buddha. Bukan kubah seperti masjid di Timur Tengah. Di dindingnya terukir kaligrafi Arab berdampingan dengan aksara Han. Jejak Islam yang telah mengakar lebih dari seribu tahun.
Michael Dillon dalam
China’s Muslim Hui Community: Migration, Settlement and Sects, Routledge (1996) menulis, Islam masuk ke Tiongkok lewat jalur sutra pada abad ke-7, dibawa para pedagang Arab dan
Persia. Mereka tidak datang dengan pasukan, tapi dengan barang dagangan dan kitab suci.
“Muslim telah menjadi bagian dari mosaik kebudayaan Tiongkok sejak abad ke-7,” tulis Jonathan N. Lipman dalam
Familiar Strangers: A History of Muslims in Northwest China (University of Washington Press, 1997). Namun, sepanjang sejarah, komunitas Muslim selalu berada dalam tarik-menarik antara adaptasi budaya dan tekanan politik.
Baca juga: Masjid Muhammad Ceng Hoo Simbol Keharmonisan Muslim China di Surabaya Hidup dalam Bayang SinifikasiKetika Dinasti Yuan (1271–1368) memerintah, posisi Muslim cukup terhormat. Banyak yang jadi pejabat, penerjemah, bahkan pengelola pajak. Tetapi, seperti gelombang, keberuntungan itu surut di era Ming.
Dru C. Gladney dalam
Muslim Chinese: Ethnic Nationalism in the People's Republic (Harvard University Press, 1996) mencatat, Dinasti Ming memaksa komunitas Muslim untuk meninggalkan bahasa Arab, mengganti nama dengan yang berbau Tionghoa, bahkan mengadopsi pakaian lokal. “Islam di Tiongkok selalu dipaksa berdamai dengan proyek sinifikasi,” tulis Gladney.
Ketegangan tak berhenti di situ. Pada abad ke-19, pemberontakan Muslim meletus di Yunnan dan Gansu. Puluhan ribu jiwa melayang. Luka itu membekas dalam memori Hui. “Sejarah berdarah ini membentuk rasa identitas yang lebih kental,” kata Gladney.
Ketika Mao Zedong mendirikan Republik Rakyat Tiongkok pada 1949, ia membawa janji kesetaraan etnis. Semua kelompok dijamin haknya. Termasuk beragama. Tapi janji itu berubah jadi paradoks.
Revolusi Kebudayaan (1966–1976) menghapus semua ruang keberagamaan. Masjid ditutup. Kitab suci dibakar. Ulama dikirim ke kamp kerja paksa. “Bagi Mao, agama adalah candu, dan Islam tak terkecuali,” tulis Merle Goldman dalam Religion in China Today (Cambridge, 1981).
Setelah Mao wafat, Deng Xiaoping melonggarkan sedikit ruang. Tahun 1980-an, masjid direnovasi. Haji kembali diperbolehkan. Muslim Hui dan Uighur merasa lega. Tapi itu untuk sementara.
Baca juga: Keluarga Muslim China di Negeri Jiran Turut Berikan Hewan Qurban Dari Otonomi ke Pengawasan TotalIsu Muslim di Tiongkok memasuki babak baru di Xinjiang. Populasi Uighur yang berbahasa Turkik dianggap ancaman separatis oleh Beijing. James Leibold dalam “
Xinjiang Work Forum and Ethnic Policy in China" (The China Journal, 2014) menulis, sejak kerusuhan Urumqi 2009, Beijing mengidentifikasi “tiga kekuatan jahat”: separatisme, ekstremisme agama, dan terorisme.
Di bawah Xi Jinping, pengawasan meningkat drastis. Pemerintah menyebutnya “kamp vokasional,” tapi laporan Human Rights Watch menyebutnya kamp interniran. Warga ditahan tanpa proses pengadilan, diminta meninggalkan doa dan puasa. Aplikasi di ponsel mereka dipantau. Bahkan nama bayi pun diatur: nama seperti Muhammad dan Fatimah dilarang.
“Ini bukan sekadar pengawasan. Ini proyek rekayasa sosial,” tulis Leibold. Beijing ingin mencetak “warga modern” yang loyal pada negara, bukan agama.
Di luar negeri, isu ini memicu kecaman. PBB, Amerika Serikat, dan Uni Eropa mengkritik keras. Tapi di dalam negeri, sunyi. Media dikontrol, akademisi diam. Di jalanan Urumqi, baliho besar bertuliskan “Cintai Partai, Cintai Negara” berdiri tegak di depan masjid.
Dru Gladney menulis, Islam di Tiongkok kini berubah menjadi simbol perlawanan identitas terhadap proyek homogenisasi negara. Namun perlawanan ini tak bersenjata, melainkan lewat doa yang disembunyikan, pengajian yang dilakukan diam-diam, dan ingatan kolektif yang dijaga rapat.
Baca juga: Bertemu MUI, Zakir Naik Ingatkan Posisi Umat Muslim sebagai Khairu Ummah Hari ini, umat Islam di Tiongkok hidup dalam dilema. Mereka bersyahadat, tapi berbicara dengan bahasa Mandarin. Nama mereka Ma, Wang, atau Zhang, bukan Ahmad atau Ali. Di kota-kota besar, masjid tampil seperti pusat kebudayaan, bukan rumah ibadah yang ramai.
Namun, seperti ditulis Lipman, “Islam di Tiongkok selalu menemukan cara untuk bertahan.” Dari jalur sutra hingga era digital, dari dinasti ke republik, iman itu tetap hidup, meski sering harus bersembunyi di balik tirai merah.
(mif)