Bahaya Tafsir Instan: Mengutip Ayat Tanpa Konteks
Miftah yusufpati
Senin, 01 September 2025 - 05:45 WIB
Menafsir Al-Quran tidak bisa hanya mengutip teks. Setiap kata punya beban makna, setiap redaksi menyimpan presisi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Menafsir Al-Qur’an bukan perkara potong-tempel. Mengutip satu atau dua ayat untuk membahas suatu persoalan bukan saja rawan menyesatkan, tapi juga menjerumuskan ke tafsir parsial yang jauh dari maksud wahyu. Lebih parah bila analisis dilepaskan dari konteks: keterkaitan ayat (munasabah), sejarah turunnya (asbab al-nuzul), atau penjelasan Nabi dalam Sunnah. Para pakar tafsir menyebut pendekatan komprehensif ini sebagai metode tematik (maudhu’i).
Dalam buku Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Quraish Shihab menggarisbawahi satu keistimewaan Al-Qur’an: ketelitian redaksi. Wajar, karena ia bersumber dari Allah sendiri. Redaksi ini bukan sekadar estetika, tapi penuh makna. Karena itu, para ulama kerap memeriksa setiap kata untuk menerima atau menolak pendapat tertentu. Contoh mencolok adalah istilah yang digunakan untuk menyebut Yahudi dan Nasrani, dua kelompok yang disepakati sebagai Ahl al-Kitab.
Baca juga: Ketika Tafsir Lama Beradu dengan Demokrasi: Perjuangan Hak Politik Perempuan
Al-Qur’an tak sekadar memakai satu istilah. Ia menyebut Ahl al-Kitab, Utu al-Kitab, Utu nashiban minal kitab, al-Yahud, alladzina hadu, Bani Israil, dan an-Nashara. Sebaran istilahnya pun menarik:
- Ahl al-Kitab: 31 kali
- Utu al-Kitab: 18 kali
- Utu nashiban minal kitab: 3 kali
Dalam buku Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Quraish Shihab menggarisbawahi satu keistimewaan Al-Qur’an: ketelitian redaksi. Wajar, karena ia bersumber dari Allah sendiri. Redaksi ini bukan sekadar estetika, tapi penuh makna. Karena itu, para ulama kerap memeriksa setiap kata untuk menerima atau menolak pendapat tertentu. Contoh mencolok adalah istilah yang digunakan untuk menyebut Yahudi dan Nasrani, dua kelompok yang disepakati sebagai Ahl al-Kitab.
Baca juga: Ketika Tafsir Lama Beradu dengan Demokrasi: Perjuangan Hak Politik Perempuan
Al-Qur’an tak sekadar memakai satu istilah. Ia menyebut Ahl al-Kitab, Utu al-Kitab, Utu nashiban minal kitab, al-Yahud, alladzina hadu, Bani Israil, dan an-Nashara. Sebaran istilahnya pun menarik:
- Ahl al-Kitab: 31 kali
- Utu al-Kitab: 18 kali
- Utu nashiban minal kitab: 3 kali