LANGIT7.ID-Menafsir Al-Qur’an bukan perkara potong-tempel. Mengutip satu atau dua ayat untuk membahas suatu persoalan bukan saja rawan menyesatkan, tapi juga menjerumuskan ke tafsir parsial yang jauh dari maksud wahyu. Lebih parah bila analisis dilepaskan dari konteks: keterkaitan ayat (munasabah), sejarah turunnya (asbab al-nuzul), atau penjelasan Nabi dalam Sunnah. Para pakar tafsir menyebut pendekatan komprehensif ini sebagai metode tematik (maudhu’i).
Dalam buku
Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Quraish Shihab menggarisbawahi satu keistimewaan Al-Qur’an: ketelitian redaksi. Wajar, karena ia bersumber dari Allah sendiri. Redaksi ini bukan sekadar estetika, tapi penuh makna. Karena itu, para ulama kerap memeriksa setiap kata untuk menerima atau menolak pendapat tertentu. Contoh mencolok adalah istilah yang digunakan untuk menyebut Yahudi dan Nasrani, dua kelompok yang disepakati sebagai Ahl al-Kitab.
Baca juga: Ketika Tafsir Lama Beradu dengan Demokrasi: Perjuangan Hak Politik Perempuan Al-Qur’an tak sekadar memakai satu istilah. Ia menyebut Ahl al-Kitab, Utu al-Kitab, Utu nashiban minal kitab, al-Yahud, alladzina hadu, Bani Israil, dan an-Nashara. Sebaran istilahnya pun menarik:
- Ahl al-Kitab: 31 kali
- Utu al-Kitab: 18 kali
- Utu nashiban minal kitab: 3 kali
- al-Yahud: 8 kali
- alladzina hadu: 10 kali
- an-Nashara: 14 kali
- Bani/Banu Israil: 41 kali
Sekilas tampak formal, tapi tafsir melihat kedalaman makna.
Nada yang Tersembunyi dalam IstilahKata al-Yahud kerap muncul dalam konteks kecaman. Lihat QS Al-Maidah [5]: 82 tentang kebencian mereka kepada kaum Muslim, atau QS Al-Baqarah [2]: 120 tentang ketidakrelaan mereka sampai umat Islam mengikuti jalan mereka. Ada juga ayat yang mengutip klaim mereka sebagai “putra dan kekasih Allah” (QS Al-Maidah [5]: 18), atau pernyataan bahwa “tangan Allah terbelenggu” (QS Al-Maidah [5]: 64).
Baca juga: Di Balik Dalil Kepemimpinan Suami: Tafsir yang Kian Bergeser Zaman Sebaliknya, istilah alladzina hadu tak selalu negatif. Ada kritik, seperti QS Al-Nisa [4]: 46 soal perubahan makna kata, atau QS Al-Maidah [5]: 41 tentang penyebaran kebohongan. Tapi ada juga yang netral, seperti QS Al-Baqarah [2]: 62 yang menjanjikan keselamatan bagi yang beriman dengan benar.
An-Nashara lebih kompleks. Kadang pujian, seperti QS Al-Maidah [5]: 82 yang menyebut mereka sebagai sahabat dekat kaum Muslim. Kadang kritik, seperti QS Al-Baqarah [2]: 120. Ada pula yang netral, seperti QS Al-Hajj [22]: 17 yang menegaskan keputusan Allah kelak di akhirat.
Maka, ketika Al-Qur’an memilih kata al-Yahud, hampir pasti bernada kecaman. Sedangkan an-Nashara dan alladzina hadu lebih fleksibel: positif, negatif, atau netral.
Lan vs La: Detail yang Tak Boleh HilangPerhatikan QS Al-Baqarah [2]: 120: Lan tardha ‘anka al-Yahud wa lan an-Nashara hatta tattabi’a millatahum (Orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sebelum engkau mengikuti agama mereka).
Baca juga: Tafsir atau Ta’wil? Pertarungan Klasik yang Masih Mengguncang Dunia Modern Mengapa Yahudi diberi partikel lan, sementara Nasrani hanya la? Az-Zarkasyi dalam Al-Burhan menjelaskan: lan menafikan sesuatu di masa depan secara lebih kuat dibanding la. Artinya, penolakan Yahudi lebih mutlak.
Ar-Razi menafsirkan ayat ini sebagai gambaran kerasnya sikap mereka: bukan sekadar enggan menerima Islam, tapi berharap Nabi mengikuti ajaran mereka. Muhammad Thahir bin Asyur membaca frasa hatta tattabi’a millatahum sebagai kinayah—penegasan mustahilnya Nabi mengikuti agama mereka, sehingga kerelaan mereka pun mustahil. Ini mirip dengan QS Al-A’raf [7]: 40 (“hingga masuk ke lubang jarum”) atau QS Al-Kafirun [109]: 2-3 (“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”).
Namun Ibn Asyur menambahkan catatan: penekanan ini berlaku pada masa itu, bukan selamanya. Faktanya, setelah ayat ini turun, sebagian Ahl al-Kitab masuk Islam. Sama halnya QS Yasin [36]: 10 yang menyebut orang-orang kafir yang tak akan beriman—konteksnya saat itu.
Makna Kontekstual yang Sering DiabaikanKesalahpahaman sering muncul karena ayat ini dilepaskan dari konteks. Yahudi bukan agama dakwah; mereka cenderung eksklusif. Sebab turunnya ayat ini pun terkait peristiwa perpindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, yang ditanggapi sinis oleh Yahudi Madinah dan Nasrani Najran. Mereka berharap Nabi mengarahkan salat ke kiblat mereka (Riwayat Ibn Abbas dalam Asbab al-Nuzul karya As-Suyuthi).
Baca juga: Misteri Roh: Tafsir Quraish Shihab atas Rahasia Kehidupan Kata “la” untuk Nasrani memberi nuansa berbeda: tak setegas penafian untuk Yahudi. Seakan membuka peluang perubahan sikap di masa depan.
Kesimpulannya: Menafsir Al-Qur’an tidak bisa hanya mengutip teks. Setiap kata punya beban makna, setiap redaksi menyimpan presisi. Membaca Al-Qur’an butuh kesabaran: menelusuri konteks sejarah, memahami bahasa, dan mendengar suara para mufasir. Sebab, di balik ayat, ada hikmah yang menunggu ditemukan—bukan disederhanakan.
(mif)