Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 02 Mei 2026
home masjid detail berita

Tafsir atau Tawil? Pertarungan Klasik yang Masih Mengguncang Dunia Modern

miftah yusufpati Rabu, 20 Agustus 2025 - 16:00 WIB
Tafsir atau Tawil? Pertarungan Klasik yang Masih Mengguncang Dunia Modern
Tawil bukan sekadar soal tafsir, melainkan cermin pergulatan umat Islam mencari titik temu antara teks wahyu dan keterbatasan akal manusia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- “Istiwa’ dimaklumi, tapi kaifiyah-nya majhul.” Begitu jawaban Imam Malik bin Anas ketika ditanya soal ayat Al-Qur’an yang menyebut Allah bersemayam di atas Arasy. Kalimat ringkas itu seakan menjadi simpul perdebatan panjang yang tak pernah selesai: sampai sejauh mana manusia boleh menafsirkan sifat-sifat Allah, dan apa makna ta’wil yang sesungguhnya?

Di Damaskus abad ke-14, seorang ulama karismatik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (1263–1328 M), berdiri di garis depan perdebatan itu. Dalam Majmu’ Fatawa, ia menegaskan bahwa lafal ta’wil dalam tradisi Ahlul Kalam berbeda jauh dari yang dikenal para mufassir generasi awal. “Sesungguhnya para ulama tafsir terdahulu memahami ta’wil dengan maksud tafsir,” tulisnya. Ibnu Taimiyah merujuk pada Imam Mujahid, murid Ibn Abbas, yang menanyakan tafsir seluruh Al-Qur’an kepada sang sahabat besar.

Menurutnya, ada dua makna utama ta’wil. Pertama, sebagai tafsir: penjelasan makna yang bisa ditangkap dari teks. Kedua, sebagai hakikat yang hanya diketahui Allah: misalnya kejadian hari kiamat yang disebut dalam wahyu, yang realitasnya hanya akan terbukti saat ia datang. “Ta’wil inilah yang tidak bisa diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala sendiri,” tulisnya lagi dalam Dar’ Ta’arudh al-‘Aql wa an-Naql.

Baca juga: Pandangan tentang Modernisasi Tafsir: Penggunaan Takwil dan Metafora

Dari Tafsir ke Polemik Filsafat

Polemik mengeras ketika istilah ta’wil mengalami penyempitan makna oleh kalangan muta’akhirin (generasi belakangan). Mereka memaknainya sebagai pengalihan arti lafadz dari makna lahiriah menuju makna lain yang dianggap lebih selamat secara teologis. Misalnya, ayat “bal yadâhu mabthûtatân” (QS. Al-Maidah: 64) yang secara lahiriah menyebut “tangan Allah”. Sebagian kalamiyun mengalihkannya menjadi “kekuasaan Allah”.

Bagi Ibnu Taimiyah, pendekatan semacam itu justru problematis. Sebab, ia menutup ruang tafsir yang dibangun para sahabat dan tabi’in. Ia menolak anggapan bahwa Nabi Muhammad sendiri tidak memahami ayat-ayat yang dibacakannya. “Itu berarti menuduh Nabi dan Jibril tidak tahu makna Al-Qur’an,” tegasnya dalam Majmu’ Fatawa.

Pendekatan ini membuatnya berseberangan dengan tradisi Asy’ariyah dan Maturidiyah yang mendominasi dunia Islam kala itu. Tak jarang, sikap kerasnya menyeret Ibnu Taimiyah ke penjara Damaskus. “Beliau dipenjara bukan karena politik, tetapi karena pandangan keagamaan yang dianggap kontroversial,” tulis Ahmad ibn Abdul Halim al-Harrani dalam biografi gurunya (Al-‘Uqud ad-Durriyah).

Baca juga: Misteri Roh: Tafsir Quraish Shihab atas Rahasia Kehidupan

Antara Wahyu dan Akal

Perdebatan soal ta’wil sesungguhnya berakar pada relasi wahyu dan akal. Kaum mutakallimin, seperti al-Ghazali, berusaha menyelaraskan akal-filsafat dengan nash. Maka ketika berhadapan dengan ayat-ayat mutasyabihat, mereka memilih ta’wil demi menjaga “kesucian” konsep Tuhan.

Ibnu Taimiyah menolak strategi itu. Ia lebih dekat dengan manhaj salaf, menegaskan bahwa ayat-ayat sifat dipahami sebagaimana adanya, tanpa menyeretnya ke ranah tasybih (penyerupaan) atau ta’thil (penolakan). “Makna istiwa’ jelas: bersemayam. Tapi bagaimana cara Allah bersemayam, itu hanya Dia yang tahu,” kata Imam Malik sebagaimana dikutip Ibnu Taimiyah dalam Bayan Talbis al-Jahmiyyah.

Dalam konteks ini, Ibnu Taimiyah mencoba mendamaikan dua kubu: bahwa teks harus dipahami, tapi hakikatnya tetap berada di luar jangkauan akal manusia. Ia menolak pendekatan simbolik ekstrem, tapi juga menolak antropomorfisme.

Baca juga: Tafsir dan Ambisi: Kontroversi Nama “Ahmad” dalam Gerakan Ahmadiyah

Resonansi di Dunia Modern

Polemik klasik ini ternyata tetap hidup hingga kini. Banyak pengikut gerakan Salafi menukil pandangan Ibnu Taimiyah untuk menolak ta’wil ala kalamiyun. Misalnya, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dalam Sharh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah menyatakan: “Ta’wil yang dimaksud salaf bukanlah mengalihkan makna, tetapi menafsirkan makna sesuai zhahir lafadz.”

Sebaliknya, kalangan tradisional Asy’ariyah menilai pandangan itu berbahaya karena membuka ruang tasybih. Dalam kitab Al-Ibanah, Abu Hasan al-Asy’ari sendiri membela perlunya memahami ayat sifat secara majazi agar umat tak salah kaprah membayangkan Tuhan.

Di Indonesia, perdebatan ini merembes dalam tarik-menarik antara gerakan Salafi dan ormas Islam besar seperti NU atau Muhammadiyah. Peneliti Islamic Studies, Muhammad Adlin Sila, dalam Fatwa, Authority and Muslim Communities (ISEAS, 2020) menulis bahwa isu ta’wil menjadi penanda identitas keagamaan sekaligus alat politik wacana.

Baca juga: Batas dan Pilihan: Tafsir Maudhu’i atas Takdir

Membaca Ulang Warisan

Kini, pertanyaan besarnya: apakah umat Islam harus memilih satu kutub semata? Sebagian akademisi mendorong pendekatan historis. Menurut Harun Nasution dalam Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (1985), perbedaan ini adalah keniscayaan intelektual Islam. “Ibnu Taimiyah membela kesucian wahyu dari intervensi filsafat. Sementara kalamiyun membela keutuhan teologi dari kesan antropomorfisme,” tulisnya.

Dengan begitu, ta’wil bukan sekadar soal tafsir, melainkan cermin pergulatan umat Islam mencari titik temu antara teks wahyu dan keterbatasan akal manusia. Dan seperti perdebatan klasik lainnya, warisan Ibnu Taimiyah akan terus menggema, terutama di tengah umat yang masih mencari jembatan antara iman dan nalar.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 02 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)